AGAMA JAWA
MENGENAL AGAMA JAWA
.
Agama Jawa, berdasarkan disertasi Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum. yang sudah diuji dihadapan para penguji secara akademis, “Agama Jawa” itu ada, nyata, dan eksis berkesinambungan hingga sekarang. Asal dan keberadaannya jauh sebelum era Hindu-Buddha masuk ke Nusantara, yang artinya sangat jauh sekali sebelum era Islam masuk ke Nusantara.
.
Keaslian Jawa yang senantiasa dipertahankan, menyebabkan lahirnya istilah-istilah : Hindu Jawa, Islam Jawa, Cina Jawa, Buddha Jawa, dst nya. Itu sebenarnya adalah indikasi bahwa, di Jawa ini sudah ada pranata moralitas dan spiritual tersendiri (Agama Jawa), yang unik dan khas, namun seiring berjalannya waktu dimana pengaruh Agama-Agama dari luar Nusantara masuk kedalam Nusantara dan berbaur dengan rukun dan damai, terjadilah sinkretisme diantara keduanya. Dan berdasar penelitian memang demikian adanya, bahwa di Jawa ini jauh sebelum Hindu-Buddha dan Islam masuk, telah ada dan hidup secara nyata apa yang disebut sebagai “Agama Jawa” itu.
.
Hakikat pencarian “Urip” dalam Agama Jawa, adalah menemukan “Kayu Gung Susuhing Angin”. Manakala mampu menemukan “Kayu Gung Susuhing Angin” itu, kelak akan dengan mudah dan selamat menuju “Sangkan Paraning Dumadi”. Suasana batin akan semakin plong, bolong, dan suwung, pada saat fenomena ajaib itu dapat diraih.
.
Karakteristik agama selalu berpikir pada hal-hal ghaib. Fakta-fakta keagamaan Jawa, yang bergerak pada hal-hal Ghaib cukup banyak. Berbagai ritual di Gunung Lawu, Gunung Kemukus, Gunung Sambil, Gunung Kawi, dan lain-lain adalah contoh praktik keagamaan Jawa. Contoh ini mengindikasikan hadirnya kepercayaan religius orang Jawa.
Konteks kehidupan agama Jawa itu kompleks. Ada yang mengasumsikan, agama Jawa adalah Klenik. Kata klenik sendiri berasal dari kata “klenikan”, artinya berkomunikasi dengan berbisik-bisik. Klenik tersebut berupa kata-kata sakral dan mantra, untuk membangun aroma spiritualitas. Pembicaraan dalam ranah yang sepi, kondisi “Suket godhong ora kena krungu” , itulah ciri klenik. Yang dicari pergulatan klenik adalah inti spiritualitas Jawa.
.
Ekspresi Agama Jawa jelas bervariasi. Tidak ada aturan baku dalam menjalankan agama Jawa. Ekspresi itu sebuah fenomena, yang kadang-kadang sulit dijangkau oleh nalar sehat. Fenomena religius Jawa dapat dibagi menjadi dua kategori :
(1). KEPERCAYAAN
(2). RITUS
_Agama Jawa Bukan Buddhisme_
.
Banyak yang beranggapan Agama Jawa adalah penyebutan atau nama lain dari Buddhisme yang berkembang di tanah Jawa. Tapi anggapan ini tidak benar. Bahwa pernah terjadi sinkretisme diantara keduanya di jaman dulu kala, itu memang benar. Tetapi Agama Jawa berbeda dengan Buddhisme.
.
Buddhisne menyatakan diri sebagai moralitas tanpa Tuhan dan atheisme tanpa hakikat. Memang dalam beberapa vihara Buddhisme, ada yang memandang Sang Buddha sebagai Tuhan, dia memiliki candi sendiri dan sebagai objek pemujaan, tapi cara membukanya sangat sederhana, yakni hanya dengan mempersembahkan sesaji berupa bunga-bunga dan memuja barang-barang sakral atau patung-patung sakral. Ini adalah sekedar bentuk pemujaan yang bersifat “mengingat”. Penuhanan Buddha ini hanya khas bagi apa yang dinamakan Buddhisme Utara. Sedangkan bagi Buddhisme Selatan memandang Sang Buddha adalah manusia yang memiliki kejutan luar biasa melebihi kekuatan manusia biasa.
.
Berbeda dengan Buddhisme tersebut, Agama Jawa, “tetap meyakini adanya Tuhan”, ialah IA yang “Tan Kena Kinaya Ngapa”. Agama Jawa selalu berkiblat pada Tuhan sebagai sumber pemancar hidup. Meskipun demikian, Agama Jawa juga bukanlah Islam bukan pula Hindu. Ketika dijabarkan dengan mendetail, asalkan kita objektif maka kita akan menemukan bahwa Agama Jawa bukanlah produk turunan dari Islam maupun Hindu.
.
“Teosofi” adalah paham yang dianut oleh agama Jawa. Theos berarti Tuhan dan Sofia berarti Cinta. Teosofi adalah ilmu Ketuhanan yang cinta Kebijaksanaan (kesempurnaan). “Ngudi kasampurnaning hurip nggayuh kamardhikan”.
.
Teosofi Jawa didasarkan pada paham “monistik” dan “panteistik”. Monistik adalah pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berada, memancar dalam diri manusia dan alam semesta. Sementara Panteistik artinya, seluruh alam semesta menyatu ke dalam Tuhan. Monistik dan Panteistik selalu berjalan seiring dalam Agama Jawa. Keduanya diyakini selalu ada, tidak dapat dipisahkan.
.
Pemujaan roh (spirit cults), merupakan perwujudan spiritualisme asli orang Jawa. Pemujaan dilakukan pada ruang yang dipandang sakral (wingit), misalkan di bawah pohon besar, di dekat mata air pegunungan, di makam leluhur, di sendang atau sungai yang pernah menjadi petilasan bertapa, dan sebagainya. Pemujaan roh dan benda-benda itu muncul, karena sebelum Hinduisme datang, orang Jawa telah hidup teratur dengan animisme-dinamisme sebagai akar religiusitasnya dan hukum adat sebagai pranata sosial mereka. Seperti misalnya, selamatan, kepatuhan terhadap numerologi kalender Jawa, dan keyakinan terhadap sedulur papat limo pancer (Sebuah konsep tua di Jawa tentang makhluk suci penjaga diri manusia). Akar Agama Jawa itu yang menyebabkan hadirnya ruang-ruang spiritual semakin bertambah.
.
Pada dasarnya, ruang spiritual yang sering dihadiri Penghayat guna mengaktualisasikan laku budi luhur dan budi pekerti, terbagi menjadi beberapa bentuk, yaitu : (1) Petilasan, (2) makam, (3) gunung, (4) air.
.
_Manembah Dan Nguja Rasa_
“Manembah” berasal dari kata “sembah” yang berarti menghormati dan memuja. “Manembah” sebenarnya sebuah upaya “nguja rasa”, artinya membebaskan rasa dari kungkungan raga. “Nguja Rasa” akan melahirkan kebebasan rasa, sehingga suasana semakin khusyuk dapat merasuk ke semak-semak spiritual. Menurut pemahaman Kejawen, maka manembah adalah menghormat dan memuja hanya kepada “TUHAN” (Ingsun). Jadi “tataning manembah” atau tata-cara menyembah adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan atau kelompok untuk berkomunikasi dengan “Ingsun”. Orang yang senantiasa Manembah, hidupnya akan tenang, tidak menginginkan hal-hal yang bukan jatahnya (ngangsa).
.
Biasanya Manembah ada yang diwujudkan dalam bentuk semedi, ritual, dan mantra. Manembah merupakan upaya pembersihan diri baik dari sisi jasmani atau badaniah maupun dari sisi rohani atau batiniah. Orang-orang Jawa selalu menyebut “Manembah mring Hyang Maha Agung” sebagai kewajiban luhur. Manembah dilakukan dalam bentuk pemujaan, berbakti, sembah, dan “manungku puja”.
.
“Manembah” merupakan jalan hidup agar orang Jawa benar-benar selamat menuju alam “Kasidan Jati”. Hakikat “Kasidan Jati” adalah suasana spiritualitas Jawa yang sangat amat misterius. Hidup di dunia yang dicari dan yang ingin diperoleh menurut orang Jawa antara lain adalah: “anggayuh kautamaning urip, rahayu slamet ana ing donya sak akherate kanggo pribadine dhewe lan kanggo sakkeluargane sakpiturune”.
.
Mengenai “Kasidan Jati” atau mati yang sebenar-benarnya, dalam hal ini bila seseorang telah memahami dan meyakini “Sangkan Paraning Dumadi” dan melaksanakan dengan benar dan baik tentang “Manunggaling Kawula lan Gusti”. Maka pada saat dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, akan menghadap pada Tuhan Yang Maha Esa, dengan “Kasidan Jati” yang sebenar-benarnya mati yang terpuji, kematian yang sejati.
.
Semua orang bisa mengalami “Kasidan Jati”, yaitu apabila selama hidupnya manusia tidak melanggar “tata paugeraning urip”, selalu “tepa selira” atau tidak memaksakan kehendak sendiri dan atau tidak suka memaksakan diri tetapi hidup apa adanya (sak madya), tidak mengumbar hawa nafsu angkara murka, bisa dan selalu mengendalikan diri, berani melakukan laku batin atau tirakat, kuat doanya, mau dan senang beramal, bisa hidup bersama dengan tetangganya yang berbeda-beda.
.
Demikianlah sekilas ulasan mengenai “Agama Jawa”, Agama tanpa Kitab tercetak dan tertulis. “Anane namung Kitab tanpa Tulis, Kitabe Alam Kasunyatan kang gumelar, Agama tanpa Nabi, Nabine yo dhiri sejatimu dewe.”
.
#Dikutip dari berbagai sumber
#Penghayat kepercayaan kepada TYME
#Rahayu sagung dumadi saindengin buana
#Rahayu Rahayu Rahayu 🙏🙏
ELING LAN BEKTI MARANG GUSTI
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 18)
ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI
TUHAN ADALAH KASIH SAYANG DAN MENCINTAI SESAMA ADALAH KENISCAYAAN
Orang Nusantara selalu menganggap bahwa kehidupan yang diberikan kepada kita adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa dengan pola hubungan yang baik oleh karenanya selama berabad-abad Indonesia pada masa lalu mengalami kejayaan sebelum agama impor datang dan merobah budaya kita hal kecil yang bisa kita lihat adalah Pulau Bali walaupun pernah di bom dua kali oleh kaum intoleran tapi disana kultur masyarakatnya memang mencerminkan sikap ajaran Nusantara secara konsisten.Semoga suatu saat Indonesia kembali menghargai ajaran leluhurnya agar kembali berjaya.
ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI
Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi: artinya, kita yang ingat, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Gusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Gusti Yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.
□ ROSO
Apa itu Roso dalam kepercayaan leluhur Nusantara Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri.
Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)
□ TUHAN YANG MAHA ESA DIATAS SEGALANYA
Persamaan dan perbedaan Kepercayaan Nusantara dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut kepercayaan nusantara Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya.
□ TUHAN TIDAK PERNAH MENGHUKUM
Bagi seorang Kejawen Sejati atau Nusantara Sejati yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mengukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia.
Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia
menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya.
□ PUJIAN KEPADA TUHAN DIBARENGI MENGHORMATI SESAMA DAN MAKHLUK YANG LAIN
Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain atau sesama manusia Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini.
Berderma tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan. Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma.
Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa.
Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara Agama Jawi adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri, antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya.
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
SASTRAJENDRA
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 17)
SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU
KRITERIA SEORANG PEMIMPIN MENURUT AJARAN NUSANTARA
Dalam Filosofi Leluhur Nusantara Bisa Meramalkan Tokoh Yang Membawa Ke Zaman Keemasan
Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur sehingga dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :
1.Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/ menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.
2. Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.
3.Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).
4.Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.
5. Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.
6.Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, ke arah kesempurnaan hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula “Benih seluruh semesta alam.”
7. Laku, artinya perbuatan manusia itu sendiri sebagai pembuktian rahasia alam semesta ini di mana segala rasa ada di dalamnya. Oleh karena itu isi alam ini sesungguhnya yang tidak dapat dipungkiri, tidak ada keabadian, tidak ada kedamaian yang kekal, dan selalu berpasang-pasangan antara gelap dan terang, yang jahat dan yang baik, dan tanpa adanya kejahatan maka kebaikan itu sendiri tidak ada, begitu pula sebaliknya. maka yang menjadi tujuan kesempurnaan hidup itu adalah adanya keseimbangan di dalam hidup dan kehidupan.
Oleh karena itu, semakin jelas bahwa fungsi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai kunci untuk dapat memahami isi rasa jati, di mana untuk mencapai sesuatu yang luhur itu diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasa jati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, ke arah yang baik maupun yang buruk atau jahat.
Nafsu sifat itu ialah; Luwamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya tatanan alam semesta dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak sesuai dengan tatanan.
Semoga apa yang tertulis diatas bisa membangkitkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme terutama untuk generasi muda dan milenial dengan kembali mencintai budaya Nusantara , dan bagaimana memilih kriteria pemimpin yang sesuai dengan amanat ajaran luhur bangsa.
Salam Persatuan dan Cinta Indonesia.
Tito Gatsu
OJO DUMEH
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 16)
OJO DUMEH : KERENDAHAN HATI ADALAH KUNCI KEBERHASILAN HIDUP
Ojo Dumeh adalah filosofi Orang Nusantara yang melekat dalam diri orang Indonesia untuk mengendalikan diri dan nafsu karena merasa hebat jadi ukuran keberhasilan orang Nusantara adalah tetap rendah hati karena hanya kerendahan hati lah yang bisa membawa manusia berhasil dalam menjalani kehidupan .
Ojo Dumeh dalam bahasa Indonesia sehari-hari artinya ‘jangan mentang-mentang’. Ojo dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya). Ojo dumeh kuwasa (jangan mentang-mentan berkuasa). Ojo dumeh pinter dan sebagainya.
Dalam budaya Jawa memang banyak diutarakan dalam bentuk larangan dari pada anjuran. Ojo turu sore-sore (jangan tidur sore) yang maksudkan agar orang selalu tirakat di malam hari. Ojo laku ngiwo (jangan berjalan ke kiri) maksudnya jangan berlaku atau berbuat yang tidak baik*
Kalau ada nasihat yang diawali dengan kata ‘ojo’ maka kita harus mencari makna afirmatif (anjuran) yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan nasihat ‘ojo dumeh’ yang akan kita bahas kali ini.
‘Ojo dumeh’ atau jangan mentang-mentang tidak sekedar menganjurkan ‘orang yang lebih’ untuk tidak pamer kelebihannya kepada ‘orang yang kurang’. Orang juga sering mengartikan‘ojo dumeh’ dengan anjuran untuk berlaku sopan atau hormat kepada yang kurang dari dia agar orang tidak tersinggung.
Arti ‘ojo dumeh’ lebih dari sekedar ajuran berperilaku hormat. ‘Ojo dumeh” menganjurkan agar orang peduli kepada orang lain. Kalau kita mempunyai kelebihan, misanya kekayaan, kekuasaan dan ilmu, maka gunakanlah itu untuk membantu orang.
Sikap ‘ojo dumeh’ didasarkan pada kenyataan bahwa jalannya kehidupan itu bagaikan roda yang berputar. Setiap titik pada roda akan mengalami perubahan posisi, dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Pada waktu kehidupan kita di atas, jangan lupa bahwa pada saatnya nanti akan berputar dan berada di bawah. Dengan demikian, nasihat ‘ojo dumeh’ juga memberi makna agar orang tidak lupa hari esok. Ojo dumeh kaya lalu boros, tidak menabung untuk hari esok. Ojo dumeh berkuasa lalu tidak ingat hari pensiun yang tanpa kekuasaan.
Kata yang sebenarnya pendek tetapi mempunyai arti yang begitu luas. Bagi orang jawa kata tersebut mengandung filosofi yang tinggi untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ojo Dumeh mengandung arti bahwa kita (manusia) janganlah selalu membangga-banggakan apa yang telah dimiliki baik berupa ketenaran, harta benda, pangkat / jabatan, kecantikan, ketampanan, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan contoh.
Semua itu tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa yang suatu saat pasti akan dimintanNya kembali. Ojo dumeh sugih (Jangan mentang mentang kaya), Ojo dumeh ganteng /ayu (Jangan mentang mentang ganteng/cantik), Ojo dumeh duwe pangkat terus sewenang-wenang (Jangan mentang mentang punya jabatan terus sewenang-wenang) dan masih banyak lagi ungkapan ojo dumeh yang dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan ikuti budaya asing terutama Arab yang membuat diri merasa benar tetap rendah hati dan cintai budaya serta ajaran leluhur Indonesia yang begitu mulia
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
FAKTA KEJAWEN
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara
FAKTA KEJAWEN ADALAH AGAMA YANG MENGENAL PERADABAN & PEMIKIRAN YANG TINGGI
Luar biasa menarik ketika saya mendapatkan literasi mengenai Kejawen yang memang rata-rata berbahasa Inggris dan Belanda juga dari beberapa ahli yang saya kenal, hampir semua pemahamannya bisa diikuti oleh nalar dan sangat mudah dipelajari bahkan tak ada pengertian Holly Appocalipstic seperti yang dijumpai dalam agama impor , seperti cerita nabi berjumpa Tuhan yang akhirnya menjadi cerita yang dipercaya umatnya atau cerita mengenai dewa dan sebagainya , agama kejawen adalah monotheisme yang mungkin sama dengan Zoroastrian tapi bedanya jauh lebih logis tidak perlu ulama, pendeta atau wakil Tuhan dan bisa diyakini secara personal.
Agami Jawi yang eksis pada tahun 4425 (44 abad sebelum Masehi) dimana seluruh Nusantara masih berpusat di Jawa sebagai Pusat Peradaban yang wilayahnya mencapai seluruh Nusantara termasuk Papua bagian barat disebelah Timur, di utara hingga semenanjung malaka dan Thailand di selatan hingga pulau Timor. Dan beberapa pulau masih menyatu, seperti Jawa , Sumatera dan Kalimantan sebelum banyak terjadi bencana alam dan pergeseran pulau.
Dalam konteks umum, Kejawen merupakan agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang ini, dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut Agami Jawi. Penganut Kejawen biasanya menganggap ajarannya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah perilaku orang yang beradap. Ajaran kejawen biasanya bertumpu pada konsep keseimbangan. Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya.
Manunggaling kawulo Gusti adalah ajaran Kejawen yang diaku oleh Islam dan Kristen padahal ajaran kejawen atau orang Nusantara lebih dahulu meyakininya
Manunggaling kawulo gusti, berarti ketika manusia mampu menangkap ruh Tuhan/ ruhul kudus kedalam dirinya.
Prinsip ini sudah ada pada diri Orang Indonesia jauh sebelum adanya agama Samawi atau paling sedikit 44 abad sebelum lahirnya Yesus Kristus atau Nabi.Isa.
Bagi Kejawen Sejati, dengan Olah Roso dapat dipahami bahwa untuk berkomunikasi dengan Gusti, kita dapat menggunakan suara hati dan apapun bahasanya. Sebenarnya Agami Jawi (Kedjawen), tidak menjadi monopoli orang-orang Jawa semata. Kedjawen adalah agamanya orang-orang yang ingin dapat berbudi luhur, bahkan Agami Jawi ini dapat diterapkan di belahan dunia manapun.
Teori Evolusi Bisa Diterima Dalam Kejawen
Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni:
Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.
Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama Rasul. Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi.
Kubu ketiga yang diyakini oleh Agami Jawi. Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya.
Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini.
Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Saya hanya ingin menyampaikan betapa tingginya budaya kita di masa lalu hingga menjadi induk agama lain didunia tapi kita sendiri melecehkannya dan dikikis terus selama berabad-abad, dengan kemajuan teknologi banyak yang bisa kita gali untuk membangkitkan kebudayaan negri sendiri yang ternyata tak kalah dengan negara lain .mungkin secara bertahap saya akan memposting sedikit demi sedikit agar lebih mudah dimengerti.
Saya sama sekali tidak bermaksud menyebarkan agama kejawen tapi hanya menggambarkan sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa .
Salam Persatuan dan Cinta Indoneaia.
Tito Gatsu.
SANGKAN PARANING DUMADI
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 15)
SANGKAN PARANING DUMADI AJARAN ASLI INTROSPEKSI DIRI ORANG NUSANTARA
Filsafat Jawa sangkan paraning dumadi adalah filsafat tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan menjadi pandangan hidup secara umum orang Nusantara
Jika dirunut per kata, memiliki arti secara harfiah sangkan (asalmuasal), paraning (tujuan), dumadi (hidup manusia)
Dapat disimpulkan arti dari sangkan paraning dumadi memilikipengertian asal dan tujuan kehidupan manusia di dunia.
Bagi kaum Kejawen, mereka mempercayai bahwa manusia berasal dari empat elemen
Kaum Kejawen menyebut keempat elemen ini dengan sebutan“sedulur papat” atau “empat saudara”, yang meliputi sebagaiberikut:
1. Tanah
Tanah, berwarna hitam dan berkarakter gelap merupakananasir dalam tubuh manusia yang membentuk nafsu alamiah
Sehingga manusia memiliki naluri makan dan minum untuk dijadikan energi yang berguna bagi keberlangsunganhidupnya.
Apabila nafsu alamiah ini tidak terkendalikan, manusiaakan senang makan dan minum berlebihan, akibatnyamanusia mudah sakit dan malas melakukan aktivitas.
Dalam pewayangan digambarkan dengan tokoh Kumbakarna, tokoh yang rakus terhadap makanan lalu tertidur setelah perutnya kekenyangan.
2. Api
Api, berwarna merah dan berkarakter panas adalah sifat yang membentuk nafsu amarah manusia.
Dalam hal positif ini adalah naluri yang muncul yakni keberanian untuk mengadapi tantangan atau bahaya, bersemangat dalampekerjaan, dan pantang menyerah sebelum mencapaitujuan.
Jika nafsu amarah tidak terkendali, manusia akan mudah marah dan menghancuran segala hal yang tampak di depannya.
Dunia pewayangan menggambarkannya dengan tokoh Prabu Dasamuka, tokoh yang memiliki keberanian tinggi, tapi mudah naik pitam bila hatinya tersinggung.
3. Angin
Angin, warnanya kuning dan memiliki karakter indah merupakan yang membentuk nafsu spirit atau ingin dihargai bagi manusia
Melalui nafsu ini, menjadikan manusia selalu tampil menawan menyukai keindahan, kesusastraan, seni, danasmara.
Seseorang yang didominasi oleh nafsu spirit , ia akanmenjadi sastrawan atau seniman, orang yang mengabdi pada keindahan.
Apabila nafsu spirit tidak terkendali, ia akan menjadibudak keindahan, budak asmara yang dapat merusak jiwaraga.
Tokoh yang digambarkan dalam dunia pewayangan adalahtokoh Sarpakenaka, raksasa perempuan yang mempunyaibanyak suami (poliandri) untuk memuaskan nafsu berahinya.
4. Air
Air, dengan warna putihnya dan karakternya yang suci merupakan anasir yang membentuk nafsu muthmainah atau ketenangan bagi manusia
Nafsu ketenangan membuat manusia suka melakukankebajikan, menjunjung tinggi cinta-kasih, dan senantiasamenunaikan amalan yang diperintahkan tuhan.
Jika nafsu ketenangan tidak terkendali, manusia akansombong dan senang memamerkan perbuatan baiknya padaorang lain, serta merasa dirinya suci.
Dunia pewayangan menggambarkannya dengan tokoh Gunawan Wibisana, tokoh yang lebih membela kebenarandan berperang melawan kakaknya sendiri..
Begitu tingginya ajaran leluhur Nusantara jauh dari ajaran halusinasi orang Arab ! Mari kita jaga nasionalisme Indonesia buang jauh-jauh ajaran Arab dan menerima Islam sebagai rahmatan lil Alamin bukan budaya Arab yang primitif!
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
KOSMOLOGI YANG MASUK AKAL
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 14)
AJARAN LELUHUR NUSANTARA ADALAH WILAYAH KOSMOLOGI PALING MASUK AKAL
Jika ada beberapa pengulangan penulisan atau tema memang sengaja saya lakukan untuk lebih memahami filosofi dari ajaran yang sangat luhur ini guna membangkitkan nasionalisme dan kecintaan kepada leluhur Indonesia .
WILAYAH KOSMOLOGI MEMBUAT AGAMA TAK BERGUNA
Wilayah Kosmologi Dr. Steven Weinberg Peraih Nobel Price Award , penemu teori Kuantum menulis banyak buku , termasuk satu tentang sejarah sains, “To Explain the World: The Discovery of Modern Science” (2015), dan tiga volume dengan total 1.500 halaman, tentang teori medan kuantum, yang menggabungkan fisika klasik, relativitas khusus dan mekanika kuantum. Serial ini secara luas dianggap sebagai teks definitif tentang masalah ini Tiga Menit Pertama,” yang memperoleh pembaca yang luas dan menjadikan kosmologi bidang yang terhormat bagi fisikawan. Dalam buku itu ia menggambarkan bumi sebagai “bagian kecil dari alam semesta yang sangat bertentangan dengan hukum agama dan yang terkenal, dan dengan manusia harus berpikir bebas tanpa sekat agama , menyimpulkan, “Semakin banyak alam semesta tampak dapat dipahami, semakin tampak agama tidak berguna.”
WAWASAN KOSMOS KEJAWEN
Kejawen tidak pernah membahas mengenai kosmologi kecuali wilayah Nusantara karena itu memang terbukti diluar jangkauan kemampuan berpikir umat manusia apalagi pada masa lalu. Jadi orang kejawen berpikir secara rasional termasuk masalah kosmologi. Kejawen memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana atau space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya yang harus tertanam pada penduduk Nusantara sehingga individu di Indonesia harusnya memahami dan mengamalkan ajaran ini jika diamalkan betapa Indonesia diyakini akan menjadi negara maju Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini Bawana adalah dunia dengan isinya.
KAWASAN KOSMOLOGI
Bawana adalah kawasan kosmologi. Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Seperti tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame jagad rame atau ladang kejawalen ini dianggap sebagai bumi Nusantara dimana bila kita menanamkan kebaikan disini kelak akan menuai hasilnya baik untuk diri sendiri atau penduduk Nusantara. Pada tataran ini, orang menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah.
REALITAS HIDUP
Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup.Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.Suasana demikian oleh orang Nusantara disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.Teori Evolusi Dalam Kepercayaan Nusantara Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni: Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.
GENERATIO SPONTANEA
Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama samawi . Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi. Kubu ketiga yang diyakini oleh Kepercayaan Nusantara Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga kami tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya. Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan.
TEORI EVOLUSI
Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini. Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Mencari Tuhan Ketika kita kecil kita sering dengar bahwa kepercayaan Nusantara atau kejawen itu keyakinan yang tidak mempunyai Tuhan atau agama yang Tuhannya belum diketemukan, karena mereka adalah orang-orang yang mencari Tuhan.
GUSTI
Memang kalau kita hanya menterjemahkannya sebatas kalimatnya saja terkesan memang demikian. Kalau kita bertanya? Apakah orang-orang yang Mencari Kedamaian adalah orang-orang yang kehilangan akan konsep Kedamaian itu sendiri? Saya pikir anak kecil pun tahu, bahwa bagi orang-orang yang Mencari Kedamaian tersebut adalah orang-orang yang belum mengerti akan arti Kedamaian itu sendiri. Jadi dalam arti Kejawen, Mencari Tuhan bukan berarti mencari Tuhan, tetapi lebih dalam lagi artinya, yakni bahwa dirinya dalam Olah Roso, belum mendapatkan hubungan yang transendental dengan Gusti. Sehingga seorang Kejawen akan terus melakukan pencarian tersebut, manakala dirinya belum dapat berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa secara transendental. Gusti Allah Banyak orang Indonesia yang menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan Gusti Allah.
Di sisi lain kita tahu, bahwa hukum Tata Bahasa kita adalah hukum DM (diterangkan menerangkan) sehingga dari kata Gusti Allah jelas bahwa kata Gusti ada sebelum kata Allah (2000 tahun SM), sementara kata Gusti yang digunakan oleh Kedjawen sebagai penghargaan tertinggi dalam menyebut Tuhan Yang Maha Esa sudah ada pada 4425 tahun Sebelum Masehi. Dari hukum DM dapat dibuktikan bahwa, konsep Tuhan Yang Maha Esa sudah ada terlebih dahulu dalam diri seorang Kejawen, sebelum sebutan Allah disosialisasikan di dunia. Ketika agama pendatang ingin mamasukan pola pikirnya ke dalam masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutannya sendiri. Pertama-tama mereka mencoba menggantikan kata Gusti dengan kata Tiada Tuhan Selain Allah, namun karena orang-orang Indonesia pada saat itu adalah orang-orang yang Internalistik Religius, sehingga sangat sulit untuk menggantikan kata Gusti dengan kata Allah.
Untuk itu, mereka merubah strategi dengan menyisipkan kata Allah pada kata Gusti, tetapi lagi-lagi, karena kata Gusti sudah mendarah daging dalam pikiran orang Indonesia, sehingga mereka menurunkan kata Allah itu sendiri menjadi kata sifat. Yakni Gusti Allah, yang dalam terjemahannya Gusti adalah Allah. Analoginya Jas Merah adalah Jas berwarna Merah. Setelah kata Gusti Allah diterima oleh penduduk lokal, maka mereka melakukan strategi berikutnya, yakni dengan mensosialisasikan bahwa Gusti adalah sanjungan pada kata Allah. Kemudian Gusti diartikan dengan Sang Pangeran, lagi-lagi ini pemutarbalikan fakta oleh agama pendatang. Bagi anda yang ingin menjadi Kejawen Sejati, seyogyanya setelah mengerti Jas Merah (jangan suka melupakan sejarah), mulai sekarang hanya menggunakan kata Gusti untuk mengagungkanNYA. Internalistik Religius dan wilayah kosmologi adalah sebuah perilaku yang sudah sangat melekat pada motorik orang Indonesia.
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
KEJAWEN YANG TERPELIHARA
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 13)
BALI ADALAH PENINGGALAN KEJAYAAN NUSANTARA DAN KEJAWEN YANG TERPELIHARA WALAU SINKRETIS DENGAN HINDU
KEJAYAAN NUSANTARA DIAKUI DUNIA
Saya tidak perlu menjelaskan lagi bahwa Kejawen adalah awal dari peradaban dunia yang sangat sinkretis dengan agama -agama impor dan yang sampai saat ini terpelihara dengan baik adalah di Bali karena Hindu Bali berbeda dengan Hindu dari India Hindu Bali punya banyak kesamaan dengan kejawen.
KONSEP KEJAWEN DALAM HINDU BALI
Prinsip dasar Kejawen adalah Manunggaling Kawulo Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti artinya setiap mahluk pada akhirnya akan kembali menyatu kepada Tuhan sebagai sang pencipta.
Manunggal berarti kembali bersatu kepada Sanghyang Tunggal, Ida Sanghyang Widhi Wasa (moksa) untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Kawula diartikan sebagai hamba, mahluk atau ciptaanNya.
Gusti diterjemahkan sebagai Tuhan, Dzat Yang Maha Menciptakan yaitu Beliau yang sangat dekat yang ada di dalam diri kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita;
Dalam Hindu Dharma,
ajaran ini sama halnya seperti kita memahami tentang moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman kembali.
Mempelajari ilmu tentang Manunggaling Kawula Gusti ini bukan belajar untuk menjadi Gusti atau Tuhan.
Namun mempelajari ilmu Manunggaling Kawula Gusti ini adalah belajar mengenal, mengerti, memahami, dan memanfaatkan potensi maksimal dari keberadaan Dzat Gusti yang ada dalam diri setiap makhluk untuk kemaslahatan alam semesta, dan mahlukNya.
Ketika seseorang memahami dengan sepenuhnya bahwa dalam diri setiap makhluk itu ada keberadaan Dzat Gusti,
maka dengan otomatis, dia tidak akan mampu untuk menyakiti makhluk lainnya, meskipun dirinya sendiri disakiti terlebih dahulu.
Bagaimana dia mampu menyakiti makhluk lain jika menyakiti seseorang yang terdapat keberadaan Gusti di dalamnya dapat diartikan dengan ia menentang keberadaan Gusti itu sendiri?
Lalu Bagaimana kalo sudah MANUNGGAL..? itu berarti DIAM. Tak ada lagi kata2 yang saya mampu untuk menggambarkannya.
Pahami bahwa pada hakekatnya pencapaian terindah dan syahdu dalam Ketuhanan adalah DIAM, hening....
Lalu menuju SUWUNG (Sunia Loka).
Pada konsep yang lebih jauh, memahami keberadaan Dzat Gusti di dalam diri kita, dapat digunakan untuk menuntun kita dalam menjalani hidup dengan damai, tenang dan lebih berkesadaran.
Maka hidup akan menjadi lebih mudah, dan indah karena kita selalu diperkaya dengan welas asih dan kasih sayang
NUSANTARA SEBAGAI NEGARA BESAR
Dalam sejarah tercatat nama Nusantara ada dalam kitab Nagarakertagama yang merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO. Jadi nama dari mulai Mataram, Pajajaran , Singosari, Sriwijaya, (di Sumatera), Martapura (di Kalimantan ), Tidore ( di Maluku) Kakawin (di Papua) dan Majapahit adalah representasi dari nama tempat atau lambang kerajaan di Indonesia atau Nusantara, secara kebetulan Mataram adalah pusat kerajaan Nusantara ketika berpusat di Yogjakarta .
Garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.
Tahun 2010 sekelompok pengusaha Jepang dipimpin Takajo Yoshiaki membiayai pembuatan kapal Majapahit atau Spirit of Majapahit yang akan berlayar ke Asia. Menurut Takajo, hal ini dilakukan untuk mengenang kerjasama Majapahit dan Kerajaan Jepang melawan Kerajaan China (Mongol) dalam perang di Samudera Pasifik.
Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni.
Bahkan ada perguruan silat bernama Kali Majapahit yang berasal dari Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali Majapahit ini mengklaim berakar dari Kerajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina, Singapura, Malaysia dan Selatan Thailand.
Begitu luar biasanya Indonesia pada masa lalu , sayang pemerintah Orde Baru melakukan politisasi sejarah dan melarang referensi buku dari luar sehingga kejayaan Indonesia tidak atau kurang tergali.
JAMAN KEGELAPAN
Jaman islamisasi di Pulau Jawa di abad ke 16 pada masa Pemerintahan Brawijaya V memang bisa dianggap masa kegelapan seiring dengan pengkhianatan Raden Patah kepada ayahandqnya Raja Brawijaya V masyarakat Majapahit mengalah dan banyak berpindah ke Bali , pegunungan Tengger , Blambangan dan di daerah Banten Kuno. Semua peninggalan kerajaan majapahit dihancurkan terutama di pusat pemerintahan di Jawa Timur (Trowulan, Majapahit dan Singosari).
Di India masa pendudukan Islam pada abad ke 13 dianggap masa kegelapan oleh orang India terutama yang beragama Hindu karena mereka menghancurkan seluruh budayanya hingga kota-kota seperti Palawa dan Hastina Pura hilang tak berbekas.
Begitu juga di negara - negara Eropa ketika kekhalifahan Ottoman menguasai Bulgaria dan Armenia yang menghancurkan hampir semua artevak dan peninggalan kerajaan Romawi disana tapi masalah tersebut tidak akan kita bahas disini saya hanya ingin menggambarkan begitu hebatnya budaya Nusantara pada masa lalu.
Kita bisa melihat beberapa negara di Timur Tengah dalam waktu sekejap bisa luluh lantak , semua karena poltisasi agama .
BALI ADALAH KEJAYAAN NUSANTARA DAN AJARAN KEJAWEN YANG TERPELIHARA
Bali adalah pusat kebudayaan yang diakui sebagai peninggalan kebudayaan tertinggi di Dunia dilihat dari semua sisi kita bisa melihat akhlak perilaku orang Bali yang begitu dicintai turis mancanegara dan Bali adalah representasi Majapahit.
Peninggalan kejayaan Nusantara dalam hal ini Majapahit masih ada sampai sekarang yaitu di Bali.
Pada masa lalu Bali yang sudah di Hindukan karena tidak bisa di Islamkan atau diarabisasi tapi lambat laun akan menjadi Arab kalau dibiarkan.
Majapahit adalah bukan kerajaan Hindu tapi kejawen dan penyatuan Siwa Buda.
Pada tahun 1961 Hindu di sahkan oleh Pemerintah sedangkan praktek-praktek di Bali sudah ada Ribuan tahun sebelumnya. Pada tahun 1968 Pemerintah Orde Baru mewajibkan warga negara Indonesia memeluk agama impor dan penduduk Bali sebagian besar lebih memilih agama Hindu.
Hindu identik dengan India Tapi Majapahit Bali tidak identik dengan India.
Majapahit Bali semua menghormati leluhur
Bali yang tidak punya Kawitan dan menjang Sluwang Majapahit atau Siapa yang tidak melaksanakan odalan dan mecaru serta Upacara Ngenteg linggih yang menghormati leluhurnya .
Pure boleh dikatakan tempat ibadah Hindu Tapi Pura/Puro adalah Keraton Stana yang merupakan penghormatan leluhur.
Sabda Palon meramalkan bahwa seorang putra Bali atau keturunan raja Nusantara akan kembali mempersatukan Nusantara ini terbukti dengan lahirnya sang Proklamator Ir. Soekarno yang ibundanya seorang bangsawan Bali.
Semua orang tahu akan Ramalan ini, tapi bagi yang tidak tahu silahkan baca terjemahannya dan akan mendapatkan kasunyatan, Majapahit tidak perlu pengakuan tapi Dunia mengakui Majapahit sejarah dan budayanya hanya bangsa sendiri saja yang belum membanggakannya, contoh Candi Borobudur diakui Dunia tapi karena bangsa ini tidak bangga akhirnya ya..menjadi hilang jati dirinya, malah membanggakan budaya Arab yang tidak beradab di padang pasir.
Lihatlah bagaimana setiap orang di negara lain membanggakan peninggalan leluhurnya yang terawat. Disni ada yang berjuang, yang memang kewajiban Beliau untuk berjuang malah ditutup dan di sunat “seperti adat Arab” tidak boleh memberikan kasunyatan padahal Dunia mengakuinya).
Cintai Budaya Nusantara lawan semua pengkhianat Bangsa yang ingin menghancurkan budaya dan berkedok agama demi kejayaan Nusantara.
Salam Damai dan Persatuan Cinta Indonesia
Tito Gatsu.
KEJAWEN TIDAK BUTUH IMAN DAN DOGMA
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 12)
AJARAN LELUHUR NUSANTARA TIDAK BUTUH IMAN DAN DOGMA KARENA ITU ADALAH PEMBUNUHAN LOGIKA SERTA PENCUCIAN OTAK YANG SEMPURNA
□ IMAN DAN DOGMA
Iman dan dogma adalah sebuah proses pembuntuan yang sistematis bagi pikiran seseorang dalam mengembangkan pola pikirnya yang kritis. Dengan iman dan dogma jelas-jelas orang tidak diperkenankan mengkritisi isi dari ayat-ayat bahkan dalil sebuah agama.
Ajaran Lelluhur Nusantara atau kejawen mengajarkan kita, bahwa segala sesuatu dalam sebuah agama atau kepercayaan haruslah mempunyai landasan logika yang benar dan menyeluruh. Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, bagi sebagian besar agama merupakan keimanan yang datangnya dari dogma, dan tidak boleh dipertanyakan atau haram dan menjadi kafir jika di pertanyaan.
□ TIDAK PERLU MEMPERCAYAI YANG TIDAK ADA
Bagi seorang Kejawen, kita tidak perlu mempercayai yang tidak ada. Tetapi dengan Olah Roso yang benar, seorang Kejawen pasti merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dalam kejawen , tidak diajarkan untuk mempercayai yang kita tidak dapat rasakan, apalagi kita tidak tahu.
Jelas dengan proses Cuci Otak yang dilandasi dari ayat-ayat Kitab Suci agama tertentu. Saat ini banyak sekali kejahatan yang mengatasnamakan demi keimanan sebuah agama, dirinya rela melakukan pembunuhan bahkan menghujat orang lain karena merasa paling benar.
Karena orang tersebut tidak tahu akan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, apalagi merasakannya, yang didapat dari proses Olah Roso. Sebab kalau orang tersebut dapat merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa di sekelilingnya, dapat dipastikan orang tersebut tidak akan melakukan pembunuhan atau menghina kepada ciptaanNya.
□ AKAL SEHAT
Akal sehat adalah sebuah proses pemahaman atau proses analisa pikiran yang logis, yang tentunya tidak merugikan pihak lain. Jadi kalau agama itu memang ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, mana mungkin Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu Segala-galanya membiarkan penganut agama-agama ciptaanNya bertarung sendiri berebut kebenaran. Yang tentunya merugikan pihak lain.
Dengan menggunakan akal sehat maka dalam ajaran kejawen, kita tidak memerlukan dogma, seperti yang digunakan oleh agama-agama rosul atau agama-agama import, sebagai alat untuk menegasi pikiran-pikiran yang kritis yang tidak dapat terjawab oleh Kitab Suci mereka.
□ PAHLAWAN DAN PENGKHIANAT
Secara psikologis, pikiran yang dikooptasi memerlukan apa yang disebut pengakuan eksistensi dari eksistensinya yang hilang karenanya. Oleh sebab itu, maka dogma perlu memberikan pengakuan kepada yang memberikan komitmen kepadanya. Untuk kepentingan itu, iman adalah predikat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikatkan diri pada dogma itu sendiri.
Pahlawan adalah orang yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara (Kerajaan), sementara penghianat adalah orang yang tidak setia kepada Bangsa dan Negara (Kerajaan), dan bahkan menghalalkan segala cara (machiavellian) untuk menelikung teman, saudara atau bahkan orang-tuanya sendiri.
Dalam mayoritas agama yang ada di dunia, iman adalah senjata ampuh ketika penganut atau calon penganut agama tersebut mulai bertanya dengan logika. Kaitan-kaitan ayat-ayat yang ada di kitab sucinya, dengan membandingkan dengan kehidupan sehari-hari.
□ AJARAN LELUHUR NUSANTARA ADALAH KEPERCAYAAN YANG LOGIS
Ajaran leluhur Nusantara yang dikenal dengan Kedjawen adalah agama atau kepercayaan yang logis, karena keyakinan harus dibarengi dengan logika yang masuk akal. Karena keberadaan Dzat yang disebut Gusti tersebut eksistensinya dalam pikiran manusia didapat dari Olah Roso.
Banyak agama yang memulai dari Adam dan Hawa, di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka tahu adanya proses evolusi manusia purba ke manusia modern. Di sinilah senjata ke-imanan dipermainkan oleh agama-agama yang mengandalkan kitab suci.
Bagi Kedjawen, kontradiksi itu tidak perlu terjadi. Karena proses evolusi terjadi di pulau Jawa, atau di lokal tempat Agami Jawi berkembang. Jadi proses adanya Tuhan Yang Maha Esa dalam pikiran Manusia adalah sebuah proses pencarian Olah Roso, yang sudah dimulai sekitar 4425 tahun Sebelum Masehi. Di sinilah mengapa kejawen adalah agama yang logis dan dapat dibuktikan, tanpa perlu adanya dogma yang dipaksakan kepada penganutnya.
Begitu tingginya warisan leluhur Nusantara mengajarkan kita untuk kehidupan yang lebih baik , semoga ajaran leluhur Nusantara kembali menjadi tuan rumah di negri sendiri dengan kebangkitan nasionalisme Indonesia.
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia,
Tito Gatsu
KEJAWEN LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 11)
KONSEP KETUHANAN MIKRO KOSMOS ORANG NUSANTARA LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN
Konsep Ketuhanan Leluhur orang Nusantara sebenarnya luar biasa brilian dan masuk akal serta sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi.
® TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ILMU PENGETAHJAN DAN AGAMA APAPUN
Sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa konsep ketuhanan Manunggaling Kawulo Gusti memang terbukti juga tidak menyalahi Teori evolusi yang dikenal dengan Teori Darwin.
Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga kami tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya.
Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini.
Hal yang menguatkan logika berfikir orang Nusantara adalah bahwa Bapak Teori Evolusi Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Bahkan luarbiasanya ajaran Nusantara ini dapat berasimilasi dengan agama apapun karena ajaran Kejawen tidak memiliki dogma jika kita beragama apapun kita akan lebih menghayati Kehadiran tentang keesaan Tuhan dengan lebih mendalam.
® HYANG GUSTI JUMENENG SAGUNG DUMADI SAHA SUKSMA INGSUN
Jagad Alit atau Mikrokosmos adalah Semesta di dalam diri.
Jagad Gedhe atau Makrokosmos adalah Semesta di mana kita tinggal.
Ada di katakan, "Hyang Gusti Pukulun kang akarya jagad gedhe saha jagad alit, jumeneng ana sagung dumadi saha sukma ingsun" yang artinya "Tuhan Yang Mahakuasa yang menciptakan Alam Semesta, bersemayam di dalam segala ciptaan dan juga jiwaku."
Tuhan di Alam Semesta yang luas itu dengan Tuhan di Alam Semesta yang ada di dalam jiwa kita adalah Tuhan yang sama.
Dia begitu besar hingga kita tertelan di dalam-NYA. Dia juga amat kecil hingga bisa ada di dalam semua ciptaan serta jiwa kita.
Tuhan dan Manusia, "Adoh tanpa wangenan, cedak datan sengolan" artinya, "Jauh tanpa jarak, dekat tak bersentuhan".
® KONSEP JAGAD ALIT ATAU MIKRO KOSMOS
Seperti kita ketahui orang Nusantara menyebut Tuhan dengan panggilan Gusti , apa itu arti Gusti ?
Gusti diartikan sebagai "bagus ati ' agau hati yang bersih atau keluhuran Budi atau kita akan merasakan adanya Tuhan jika hati kita dipenuhi oleh kebaikan .
Dalam konsep jagat alit atau mikro kosmos dalam diri manusia sendiri ada 9 pintu surga dan neraka kemana kita akan menuju kita sendiri yang menentukan .
9 pintu surga dan neraka itu atau disebut Lawang songo adalah bagaimana kita memelihara ruh yang ada dalam jasad kita itu adalah semua lubang yang berhubungan dengan penca indera , yaitu :
Mata = 2, hidung = 2, telinga = 2 , mulut = 1, kemaluan = 1 dan dubur = 1 .
® MATA
Mata harus selalu kita jaga kita bisa melihat keindahan itulah surga sesungguhnya dan jika kita melihat keburukan adalah neraka yang sesungguhnya , bagaimana kita agar bisa melihat pemandangan yang menyenangkan ? Pada prinsipnya kita harus mampu mengendalikan diri kita
agar selalu bisa melihat pemandangan yang baik ,misalnya membuat bersih lingkungan , menghindari hal- hal yang buruk dengan menjauhkan pandangan dari hal yang bisa merusak pemandangan
®TELINGA
begitu juga dengan telinga kita menghindari pergaulan yang buruk , mempergunjjngkan dan menhhujat orang lain maka kita akan selalu dibawa ke surga dengan selalu mendengar berita yang baik. Dan selalu berusaha agar mencegah berita yang buruk seperti makian , ancanan dan lain sebagainya.
® HIDUNG
Hidung adalah panca indera yang tajam dalam mendeteksi keadaan , kita bisa mengenal makanan enak hingga akhlak perilaku seseorang melalui hidung bagaimana seseorang menjaga kebersihan dan merawat badan tentunya kita punya kriteria dan intuisi yang terukur , jika kita mendapatkan surga tentu kita akan selalu berada ditempat harum dan dineraka tentu baunya busuk.
® MULUT
Mulut adalah alat perang kita dimana orang bisa menilai akhlak perilaku kita dari bagaimana kita menggunakan mulut . Jika kita mempergunakan mulut dalam berbicara dengan baik tentu kita selalu mendapatkan sorga begitupula kebalikannya demikian pula dengan makanan jika mekanan itu baik kita akan merasakan tubuh kita baik jika buruk atau tidak dapat mengendalikan diri akibatnya akan buruk pula.
® KEMALUAN
Apa yang kita keluarkan pada kemaluanpun demikian bisa berkah bahkan surga kenikmatan bahkan menghasilkan anak yang Sholeh tapi bisa juga bencana yang menjadikan neraka dalam kehidupan kita.
® DUBUR
Dubur adalah representasi pembuangan dari setiap yang masuk ke tubuh kita jika makanan itu baik tubuh kita sehat dan kita selalu berada di surga kenikmatan begitu juga sebaliknya kita akan sering menemukan kehidupan seperti di neraka.
® LAWANG SONGO DAN RUH
Dalam prinsip kehidupan orang Jawa menekankan kehati-hayian dalam hidup artinya pengaruh panca Indra dengan 9
Lubang tadi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ruh kita, apa itu ruh ?
Ruh adalah keadaan hati yang mempengaruhi spiritual kita jika kita bicara jasmani kita akan membuang semua kotoran yang ada di semua panca indera kita agar jasmani kita ringan begitu juga ruh , agar ruh kita ringan kitapu harus membuang semua yang bersemayam dalam ruh kita dan jangan biarkan membusuk , seperti dendam, iri hati, kecewa , nafsu serakah dan lain sebagainya karena ini mempengaruhi hati karena prinsip orang Nusantara adalah menghargai Tuhannya dengan sebutan Gusti atau Bagus Ati atau hati yang bersih jadi bagi ajaran spiritual Nusantara jika hati kita kotor atau penuh prasangka buruk atau apalagi sifat buruk mustahil bertemu dan menghargai Tuhannya.
Ajaran spiritual termasuk agama bukanlah sebuah kebenaran absolut karena tak bisa dibuktikan secara ilmiah tapi semua tergantung hati nurani tapi saya hanya menggambarkan sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa Indonesia .
Salam Persatuan dan Cinta Indonesia,
Tito Gatsu
MENGENDALIKAN HAWA NAFSU
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 10)
SULUK SALOKA JIWA
BAGI ORANG NUSANTARA BERAGAMA ADALAH UNTUK MENGENDALIKAN HAWA NAFSU
AGAMA ADALAH BUDAYA
Ada perbedaan mendasar tujuan beragama bagi tiap - tiap individu, hal ini bisa kita lihat dari kultur di beberapa negara , masing-masing agama disesuaikan dengan budaya lokal dan itu sangat berkaitan erat dengan kemajuan bangsanya.
Misalnya Jepang yang sebagian besar beragama Sintho walaupun akhirnya mereka memeluk agama atau kepercayaan lain tapi mereka tak pernah melupakan ajaran leluhurnya. Shinto cenderung berfokus pada perilaku ritual daripada doktrin.
Filsuf James W. Boyd dan Ron G. Williams menyatakan bahwa Shinto adalah "tradisi ritual yang pertama dan terkemuka", sementara Picken mengamati bahwa "Shinto tidak tertarik pada kepercayaan tetapi pada agenda, bukan pada sesuatu yang harus dipercayai tetapi pada sesuatu yang harus dilakukan.
"Sarjana agama Clark B. Offner menyatakan bahwa fokus Shinto adalah pada "mempertahankan tradisi seremonial komunal untuk tujuan kesejahteraan manusia (komunal)".Seringkali sulit untuk membedakan praktik Shinto dari kebiasaan Jepang secara lebih luas,dengan Picken mengamati bahwa "pandangan dunia Shinto" memberikan "sumber utama pemahaman diri dalam cara hidup orang Jepang".Nelson menyatakan bahwa "Orientasi dan nilai-nilai berbasis Shinto terletak pada inti budaya, masyarakat, dan karakter Jepang".
Kita bisa melihat masyarakat Jepang bisa begitu maju dan progresif karena mereka memperlakukan agama sebagai tanggung jawab Individu , mereka tidak menyebarkan agama kepada bangsa lain itulah yang justru menjadikan kesuksesan mereka mampu berulangkali menguasai dunia baik dalam hal kemiliteran maupun ekonomi karena menganggap agama bukan identitas dan yang menjadi identitas adalah bangsa tapi meresap di Individu mereka untuk berperilaku dan bekerja dengan lebih baik.
Jika agama Samawi yang lahir di Timur Tengah antara Jazirah Arab dan Israel tujuannya adalah harakah atau dakwah dan melakukan infiltrasi atau penaklukan negara juga merubah budayanya bahkan itu bisa menjadi sebuah sistem politik , bisa kita lihat penyebaran Islam di dunia malahan tidak memajukan bangsa Arab , Arab Saudi sendiri menjadi negara berdaulat mendapatkan hadiah dari Inggris setelah kekalahan kekhalifahan Ottoman yang berpusat di Turki , faham Islam terbesar adalah Suni yang di bawa bangsa Turki melalui bani Umayah dan kekhalifahan Ottoman atau Utsmani dan Syiah yang dibawa bangsa Persia atau Iran melalui kekhalifahan Abbasyiah jadi sebenarnya tak ada aliran Islam yang besar kecuali Suni , Syiah dan Islam Nusantara yang mengadopsi ajaran leluhur Nusantara sedangkan sekte atau aliran pemurnian Islam dari bangsa Arab sendiri selalu berperang antara sesama mereka dan cenderung saling menghancurkan.
SULUK SALOKA JIWA
Suluk Saloka Jiwa adalah Karya Ranggawarsita yang ditebitkan oleh percetakan Albert Rusche, Surakarta 1915. Karya ini di cetak dengan buruf dan bahasa jawa, setebal 32 halaman, dan bersekar macapat. Isi serat ini adalah merupakan sebuah kisah simbolik tentang perjalanan spiritual dan perkawinan antar agama terhadap kebudayaan lokal.
DI INDONESIA TUJUAN BERAGAMA UNTUK MENGENDALIKAN HAWA NAFSU
Begitupula sebenarnya dengan Indonesia hanya sikap sinkretis masyarakat Indonesia atau Nusantara mengakibatkan justru terjajah oleh budaya asing walaupun demikian orang Indonesia tetap bisa berasimilasi dengan semua Agama hingga Pujangga Besar Rangga Warsita mendefinisikan bahwa agama di Indonesia atau Nusantara adalah mempunyai tujuan. Utama untuk mengendalikan hawa nafsu.
Indonesia saat ini sedang tumbuh euvoria beragama terutama umat Islam tapi lupa bahwa dasar agama itu akhlaqul kharimah , dalam definisi suluk saloka Jiwa dijelaskan bahwa pada hakekat dasar manusia adalah berbuat baik, berani menahan diri untuk tidak menuruti nafsu terutama harta dan kekuasaan karena jika lalai dalam hal itu maka percumah segala ibadahnya.
Jadi dalam ajaran jawa atau Nusantara dijelaskan bahwa apapun bentuk amal jika dilandasi dengan hal yang kotor akan menjadi sia-sia atau neraka , misalnya membangun masjid dari hasil.korupsi, menolong orang dari hasil memeras orang lain bukanlah hal yang baik tetapi tidak menolong orangpun tapi menjaga perilaku yang baik itulah yang dinamakan surga. Semakin jelas bahwa islam Nusantara yang direpresentasikan oleh Suluh Saloka Jiwa karya Pujangga Rangga Warsita adalah mengutamakan budi pekerti manusia Indonesia dan keluhuran akhlaknya.
Suluk Saloka Jiwa adalah Karya Ranggawarsita yang ditebitkan oleh percetakan Albert Rusche, Surakarta 1915. Karya ini di cetak dengan buruf dan bahasa jawa, setebal 32 halaman, dan bersekar macapat. Isi serat ini adalah merupakan sebuah kisah simbolik tentang perjalanan spiritual dan perkawinan antar agama terhadap kebudayaan lokal.
TIDAK PERLU BERPINDAH AGAMA UNTUK MENGIKUTI AJARAN LELUHUR INDONESIA
Di kisahkan dalam serat ini tentang Syeh Suman yang pergi ke Turki untuk mendalami ajaran Marifat dari master-master sufi di Turki.
Di Turki Syeh Suman bertemu dengan seorang master bernama Syeh Usman Najib.
Sebagai seorang Dewa Hindu, maka Wisnu yang menjelma sebagai Syeh Suman yang akan berguru ilmu keislaman, tetap beragama Hindu namun batinnya memeluk agama Islam.
Hal ini menerangkan bahwa tidak harus pindah agama untuk mendalami ilmu marifat, yang terpenting adalah jiwanya, jiwanya Tunduk kepada Kehendak Dia yang Maha, dan dapat melihat kehadirannya di Timur dan Barat, dan kemana wajah dipalingkan maka yang terlihat adalah DIa, yang satu dan esa adanya.
Di dalam kisah ini ada dialog Mistik Usman Najid, Takrul Alam, Bukti Jalal, Pramana Jati, Brahmana Darma, dan Syeh Suman.
Dialog Tanya jawab ini membeberkan tentang Ilmu kesempurnaan,
“Sesungguhnya sebelum ada apa-apa, dalam kondisi awing uwung (keadaan kosong), yang ada hanya Tuhan. Tuhan menciptakan cahaya Nu ru’yah, kemudian menjadi unsur-unsur yang terurai menjadi tanah, api, angin (udara) dan air.
Kemudian unsur-unsur itupun terurai kedalamberbagai bentuk unsur yang kemudian menjelma menjadi kehidupan di dunia.
Adapun dialog tentang adanya Tuhan dan hubunganya dengan manusia di uraikan sebagai berikut, Tuhan telah ada sebelum adanya alam kosong.
Tuhan telah bersemayam dalam mukat ghaib. Tuhan diibaratkan sebagai halnya huruf Alif, yang di sifati dengan wajib al-wujud. Istilah wajib al Wujud dalam ilmu kalam, berarti ada dari Dzat-Nya sendiri, tanpa sebab dari luar. Dan adanya adalah wajib artinya pasti adanya. Adapun sifat-sifat Tuhan diuraikan sebagai :
Yang Esa itu sungguh satu adanya, dan hanya benar-benar satu adanya.
“Jangan berhenti selalu berusaha membuat kebajikan, Agar mendapat kegembiraan, Serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, Terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, Caranya harus gemar prihatin. Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, Intropeksi, telitilah jangan sampai salah, Endapkan dalam hati, Agar mudah menanggapi sesuatu. Dapatnya demikian kalau senantiasa Mendambakan kebaikan, Mengendapkan pikiran, Dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong Tetapi sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati Sebagalnya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser dari hidup yang penuh kebajikan Akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul (Pikiran liar),
Yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak (hasrat dan keinginan liar) Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, Sudah jelas akan menjadi sarang iblis,
Senantiasa mendapat kesulitan-kesilitan (hidup di dalam neraka), Kerepotan-kerepotan, Tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, Seolah-olah mabuk kepayang (hilang kesadarannya) Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju pada kebajikan.
Segala yang baik-baik lari dari dirinya. Sebab sudah meliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhan dan keesaan Tuhan. Inti dari ajaranpun (keagamaan) musnah berkeping-keping. Tapi demikian yang melihat, Bagai matanya kemasukan pasir, Tidak dapat membedakan yang baik dari yang jahat, Sehingga yang jahat lebih disukai dan dianggap utusan Tuhan"
Begitu tingginya falsafah Jawa yang menjadi sumber inspirasi Islam Nusantara oleh karenanya Islam di Indonesia memiliki peradaban tertinggi di dunia
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia.
Tito Gatsu
AJARAN YANG MEMULIAKAN MANUSIA
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 9)
AJARAN MAKRO KOSMOS LELUHUR NUSANTARA MEMULIAKAN MANUSIA
AJARAN AGAMA IMPOR UNTUK MENGUASAI MANUSIA
® SINKRETISME AJARAN LELUHUR NUSANTARA SEDANG DIFITNAH DAN DIHANCURKAN
Dalam kehidupan sehari - hari para penceramah agama terutama dari agama Islam yang terpapar ajaran radikal mereka menanamkam ketaatan bagi ulama (versi mereka) yang tak hentinya melakukan ujaran kebencian dan menggunakan dalil-dalil untuk menguasai manusia atau jamaahnya mereka satu komando yang tentu bisa diperintah siapa saja yang "bisa saja" membayar mereka karena kenyataannya para ustad dan ulamanya kaya raya bisa punya kendaraan mewah dan jalan jalan ke luar negri. Karena target mereka adalah mendirikan negara khilafah kemudian menyerahkan kedaulatan rakyat kepada negara imperialis atau kapitalis mereka tidak perduli jika Indonesia berantakan yang penting mereka bisa kaya raya , kita bisa lihat dari ceramah seorang Ulama HTI keturunan Tionghoa Felix Siauw yang mengatakan bahwa tak ada dalil Cinta tanah air yang ada dalil khilafah ... Hmmm sebuah pemutar balikan dan terorisme yang didiamkan saja? Saya juga tak mengerti.
Di Indonesia untungnya ada NU yang tetap konsisten mendahulukan logika berpikir dan sinkretisme ajaran Nusantara yang begitu luhur jadi masyarakat malahan semakin tau keluhuran budaya Nusantara dan kejahatan orang - orang yang berusaha menghancurkan budaya dan bangsanya demi keuntungannya sendiri dan golongannya
® KONSEP KETUHANAN LELUHUR NUSANTARA
Berbeda dengan konsep ketuhanan pada agam-agama lain yang menyerahkan segala sesuatu kepada logika mistik dimana semua menjadi ketentuan Tuhan , konsep ketuhanan leluhur Nusantara justru sangat memuliakan manusia, bahwa sebagai ciptaan Tuhan manusia mampu mengatur alam semesta , justru karena keberagaman dan menghargai sesama manusia itulah yang membuat manusia bisa mengatur dan menguasai alam semesta.
®JAGAD CILIK DAN JAGAD GEDE
Ternyata manusia itu merupakan perwujudan kecil dari dunia. Miniatur Alam Semesta adalah manusia ini, karena sesungguhnya dalam diri manusia itu terdapat apa yang juga terdapat di dunia ini, ada gunung, pohon besar, sungai dan samudra. Maka disebutlah jagad cilik, sedangkan alam semesta disebut jagad gede.
Jagad cilik selalu berhubungan dengan jagad gede, kalau terputus hubungannya maka mati maka hubungan itu diwujudkan dalam pernapasan, jagad cilik membutuhkan hawa untuk menghidupkan nyawa sebab nyawa tanpa hawa akan mati.
Pupuh Gambuh
Jembaring samudragung, Tanpa tepi anglangut kadalu, Suprandene makasih gung manungsa iki, Alas jurang kali gunung, Neng raganira wus katon.
Artinya :
Luasnya samudra raya, Tiada bertepi dan sejauh mata memandang, Tetapi masih besar adanya manusia ini, Hutan jurang sungai gunung, Di dalam diri manusia.
(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)
Mengapa manusia digambarkan lebih besar dari jagad raya ini? Karena apa yang terlihat besar dan menakutkan itu sebenarnya dapat masuk kedalam diri manusia sehingga Pakubuwono IV menegaskan dalam baris tembang berikut ini :
Tana prabedanipun, Jagad katon lan jagadireku,
Artinya :
Tiada berbeda, Dunia yang terlihat dan dunia dalam dirimu,
(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)
Pada bagian yang disekarkan (disyairkan) Gambuh, artinya dijumbuhkan atau dirujukan dalam tembang itu tentang dunia nyata dan dunia batin, sebagai suatu upaya untuk mendekatkan manusia kepada kenyataan untuk berpikir tentang hidup dan rasa yang paling dalam.
Dengan membuat rujukan-rujukan itu, agar manusia faham benar akan dirinya. Faham akan makna hidupnya, agar tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk perbuatan yang bukan-bukan, jangan sampai membuat kesalahan dan menghancurkan lingkungan. Karena apa yang terlihat secara nyata sebagai lingkungan hidup terlihat pula dalam batiniah pada dirinya sendiri. Rusaknya lingkungan hidup maka rusak pula dalam dirinya sendiri.
Pupuh Gambuh
Yen sira durung surup, Tegese jagad cilik lan agung, Jagad cilik jenenge manungsa iki, Iya batinira iku, Yen jagad gedhe Hyang Manon,
Artinya :
Bila kau belum mengetahui, Arti bawana alit dan bawana ageng Bawana alit namanya manusia ini, Adalah batinmu, Dan bawana ageng adalah Hyang Manon.
(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)
Dalam baris tembang yang berbentuk Gambuh ini terlihat jelas dan lebih tegas diutarakan tentang arti bawana alit dan ageng, maka jelas pula langkah-langkah yang harus kita bawa untuk menelusuri samudra kehidupan ini. Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai ”Cipta Waskita” yang artinya kewaspadaan batin yang dapat mengetahui apapun yang bakal terjadi. Mengetahui benar dan salah, kharam dan batal serta mengetahui arti hukum dalam kehidupan dan sebagainya.
Setelah kita siap mendalami ilmu mistik terapan maka kesadaran pribadi telah tergugah, sampai memahami arti bawana alit dan bawana agung dan terasalah sesuatu yang bergejolak dalam batin kita. Suatu keharusan yang mendalam di dalam hati, hingga tergerakkan getaran-getaran rasa dari segala penjuru yang menggetarkan iman kita, tiada rasa maka berlinanglah air mata haru. Tergambarkan semua perbuatan yang pernah di lakukan, semua kejahatan dan nista yang diperbuat. ”Mengapa dahulu aku tidak mengetahuimya, kalau kebaikan ada dalam diriku sendiri?” begitulah batin kita akan bertanya.
Semua itu karena ulah si tukang mengadu domba yang menghalang-halangi semuanya itu. Maka setelah semuanya telah disingkirkan, terlihatlah semuanya dengan jelas. Itulah yang dinamakan ”kalau Hyang Manon (matahari) telah membukanya, semua akan menjadi jelas”. Becik ketitik ala ketoro artinya yang baik akan terlihat adapun yang jelek akan terbukti.
Menjadi manusia berbudi luhur, rendah hati dan nasionalis adalah prinsip dasar orang Nusantara , begitu tingginya ajaran leluhur Nusantara, nikmat mana lagi yang kamu dustakan ? Sehingga kamu berani menghina dan merendahkan ajaran leluhurmu bahkan berusaha mengganti budayamu dengan budaya asing .
Salam Kedaulatan Rakyat,
Rahayu!
Ki. Tito Gatsu
KEBENARAN DALAM SPIRITUAL
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 8)
MENCINTAI LELUHUR INDONESIA MEMASUKI KEBENARAN HAKIKI DALAM SPIRITUAL JAMAN BARU
□ HIDUP BUKAN UNTUK DONGENG DAN HALUSINASI
Lihatlah ke dalam dan jalani hidup kita di tepi dua dunia.
Sebuah kenyataan di mana kita menemukan pemahaman sejati tentang siapa kita melalui pemikiran zaman baru, kehidupan zaman baru, dan spiritual zaman baru.
Penciptaan Alam tidak ada yang bisa lagi mendefinisikan seperti kata kitab suci karena bayangkan satu galaxy ada milyaran tata surya dan didalam alam semesta ada milyaran galaxy. Masihkah kita percaya akan halusinasi kitab suci dengan sesuatu yang dikatakan iman?
Ambil langkah ke tempat yang tidak diketahui atau memang tidak ingin kita ketahui karena selama ini kita tidak mau berpikir untuk mencari kebenaran ! Apakah benar apa yangdilakukan dan tertulis dalam kitab suci yang sudah terbit ribuan tahun yang lalu itu sebuah kebenaran?
Apakah tidak perlu revisi?
Apakah Tuhan tidak perduli dan tidak memikirkan manusia sebagai semua ciptaannya hingga saling membunuh?. Apakah Tuhan pilih kasih hanya terhadap satu agama?
□ TUHAN MAHA PENGASIH DAN SAMA SEKALI BUKAN PEMBENCI
Tuhan Maha Pengasih dengan memberikan kita pengetahuan dan kemajuan teknologi sehingga kita tau semua agama yang ada dimuka bumi dan memiliki kitab suci semua bohong dan kenyataannya memang membuat manusia saling membenci dan merasa benar dan itulah pertolongan Tuhan , akankah kita masih mau menutup mata dan pikiran ? Kemudian mengatakan imani saja ? Atau kita hujat apabila perlu kita bunuh orang yang membawa kebenaran dan berkata benar? Agar kita tetap hidup dalam halusinasi.
Saat mereka menjelajahi dunia kebangkitan spiritual, kesadaran, semangat, dan kondisi manusia yang terselubung. Bergabunglah dengan mereka dalam mewujudkan kesatuan semua.
Berjalanlah di tepi tebing antara kenyataan yang terlihat dan yang tidak terlihat dengan pengalaman dan pencerahan spiritual. Persiapkan diri Anda untuk evolusi spiritual dan dunia baru untuk dijelajahi. Lebih banyak kekuatan dan kekuatan untuk Anda tinggalkanlah semua halusinasi bohong dengan janji surga karena diri kita tak mau menerima kenyataan
□ SPIRITUAL KEJAWEN ADALAH HAKEKAT KEBENARAN JAMAN BARU
Seperti kita ketahui bahwa konsep Pancasila terdiri dari 5 sila , saya coba menggambarkan yaitu :
1. Religius
2. Humanity
3. Nasionalism
4..Democration
5. Socialism
Ini adalah konsep brlian dari ajaran asli Nusantara yang menjadi falsafah hidup ajaran kejawen.
Konsep Pancasila merupakan terjemahan dari falsafah Memayu Hayuning Bawana adalah konsep atau ajaran falsafah asli Nusantara yang mengajarkan kehidupan untuk menanamkan nasionalisme sejak dini
Yang meliputi semua sila yang ada dalam Pancasila dan Bung Karno sendiri mengatakan dia adalah Penggali Pancasila bukan Pencipta Pancasila , kemudian Gusdur mengatakan bahwa Pancasila sudah ada sejak 7 abad lamanya.
□ KONSEP SPACE CULTURE
Nusantara memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana atau space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya yang harus tertanam.pafa penduduk Nusantara sehingga individu di Indonesia harusnya memahami dan mengamalkan ajaran ini jika diamalkan betapa Indonesia diyakini akan menjadi negara maju
Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini Bawana adalah dunia dengan isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi.
Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Seperti tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati.
Orang yang hidupnya di jagad rame jagad rame atau ladang kejawalen ini dianggap sebagai bumi Nusantara dimana bila kita menanamkan kebaikan disini kelak akan menuai hasilnya baik untuk diri sendiri atau penduduk Nusantara.
□ LELUHUR ORANG INDONESIA BERBUDI LUHUR
Pada tataran ini, orang menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi.
Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup.
Dalam proses semacam itu, leluhur Nusantara sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia.
Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.Suasana demikian oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.
□ KONSEP NASIONALISME PALING LOGIS
Tidak pernah ada konsep pemahaman cinta tanah air yang paling logis di Indonesia selain nasionalisme , Fasisme berdasarkan agama sudah hancur dan luluh lantak di Timur Tengah !! Dengan gagasan ISIS juga Nazisme dan
Dalam.Dunia Baru ada Hidup Baru, Spiritual baru dan jadilah diri sendiri yang sama sekali baru untuk dunia baru.
Itulah yang dinamakan Memayu Hayuning Bawana dan hanya nasionalisme , kebersamaan dalam bingkai negara kesatuan Indonesia diamankan kita semua bersaudara serta diri sendiri yang menjadi tujuan hidup dan kebahagiaan manusia Indonesia
Salam Damai Dihati semua insan Indonesia
Salam.kedaulatan Rakyat,
Tito Gatsu .
SABDA LANGIT
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.7.)
AJARAN KEJAWEN SABDA LANGIT
Saya hanya ingin menyampaikan betapa tingginya dan visionernya budaya asli Nusantara yang meliputi filosofi hidup dan menjadi perekam nasionalisme , oleh karenanya di Indoneaia bergaul lintas agama dan bersaudara bahkan perkawinan bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan , misalnya perkawinan orang islam dengan Kristen, orang Hindu dengan orang islam atau budha dan sebagainya, karena orang Indonesia pada hakekatnya memahami ketuhanan secara hakikat dan berhubungan denganTuhan adalah masalah pribadi.
Dalam ajaran kejawen banyak memiliki ajaran yang menyangkut keheningan dan berusaha berinstrospeksi diri. seperti meditasi dan yoga tapi banyak orang yang justru menggali dari budaya asing atau agama import.
Jika dalam ajaran Islam disebut tasawuf Sufisme atau tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.
Dan saya yakin bahwa budaya ini sudah melekat erat dibanyak masyarakat diseluruh Indonesia walaupun terus berusaha dipecah belah bahkan saya punya keyakinan falsafah nusantara ini akan kembali menjadi tuan rumah di negrinya sendiri.
Memahami Rahasia Filsafat kejawen
Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya doktrin atau dogma dalam kalimah do’a serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas.
Begitu pula dalam kejawen, karena bukanlah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud laku spiritual dalam tataran batiniahnya, dan laku ritual dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual.
Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan do’a. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar.
Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya.
Hal itu termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah meresap di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktek imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam.
Terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini.
Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi.
Salam Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
MENEMUKAN KEBESARAN TUHAN
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.6.)
DENGAN OLAH ROSO MANUSIA AKAN MENEMUKAN KEBESARAN TUHAN DENGAN LOGIKA YANG JELAS TANPA PERANTARA
Kejawen bukan agama yang perlu dihafalkan, tetapi agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses Olah Roso. Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan surga dan nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan. Dengan Olah Roso seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati tidak berangan-angan masuk ke surga, karena ia sudah menemukan kedamaian ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti agama rosul, yang menggunakan rosul sebagai perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi dapat dipastikan pemeluk Kejawen , tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti.
Cuci otak merupakan tindakan subyek mempengaruhi obyek dengan cara, membawa logika berfikir obyek ke pola pikir yang diingini oleh subyek. Prosesnya adalah: subyek dan obyek pertama-tama memiliki satu pijakan nara-sumber yang sama. Nara-sumber dapat berupa kitab suci, atau buku-buku yang diterjemahkan dengan merujuk pada kitab suci tersebut, dengan beberapa ayat-ayat yang meyakinkan. Bagi orang-orang yang berambisi untuk masuk surga, yang notabene belum ada bukti, bahwa orang yang meninggal dengan menyakiti dirinya sendiri, maupun orang lain, bisa masuk surga.
Bagi seorang Kejawen, dimana perasaan surgawi dan kejamnya neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri. Mengapa perasaan surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan, yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yang mana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb).
Mengapa kejamnya neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Perasaan benar dan bersalah bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan kejamnya neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Gusti, untuk memohon tuntunanNya.
Kalau perasaan surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang berbudi luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk surga. Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan nara-sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.
Dengan penjelasan tersebut di atas, jadi boleh dibilang seorang Kejawen Sejati tidak mungkin untuk dicuci otaknya dalam konteks hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan, seorang Kejawen Sejati sudah memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga orang lain tidak dapat mencampurinya atau mempengaruhinya, pola hubungan tersebut kepada janji-janji untuk masuk surga.
Dosa merupakan hukuman kepada seseorang dari perbuatan buruknya kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Siapakah yang berhak untuk menilai itu dosa atau tidak? Jawabannya absolut, hanya Tuhan Yang Maha Esa.
Ada pepatah, ketidaktahuan membuat orang lebih merasa nyaman dalam pikirannya, karena dosa seseorang, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya, semua orang tidak akan terusik pikirannya jika dirinya berbuat kejahatan, kalau memang ia lahir dan tumbuh dibesarkan di lingkungan yang jahat.
Tetapi perlu diingat, sebagai keluarga normal, dari kecil kita selalu diajari oleh orang tua kita, untuk menjadi orang yang berbudi luhur. Dengan nilai-nilai, atau horma-norma yang baik, akan menumbuhkan cognitif, affektif dan motorik pikiran yang positif. Sehingga jika kita berbuat menyimpang dari norma yang diajarkan oleh orang tua kita, maka dalam pikiran kita timbul rasa bersalah.
Sedangkan rasa berdosa adalah, perasaan yang selalu menghantui kita, karena perbuatan buruk kita sendiri kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Bagaimana seseorang dapat merasa berdosa? Hanya jika ia mengerti makna dari do’a yang diucapkan.
Beruntunglah bagi anda yang berdo’a dengan bahasa yang anda sendiri tidak mengerti, karena anda tidak pernah merasa bersalah. Tetapi, semakin banyak orang yang seperti anda, maka semakin cepat pulalahh dunia ini akan hancur.
Bagaimana seorang Kejawen melihat dosa? Dosa adalah perasaan yang timbul sebagai hasil dari perbuatan yang merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)
Bagaimana kita bisa merasa berdosa? Dalam Budi Jawi yang dipentingkan adalah Olah Roso, karena dari Olah Roso maka kita tahu apakah sebuah perbuatan itu benar atau salah. Untuk memudahkan, perasaan seseorang selalu dikembalikan kepada dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika kita memukul orang lain, bagaimana kalau kita dipukul oleh orang lain? Karena rasa sakit itu akan ada kesamaannya, jika kita yang dipukul.
Apakah dosa dicatat oleh Gusti? Gusti tidak mencatat dosa kita. Yang mencatat adalah diri kita sendiri (Kalau dianalogikan saat ini, setiap manusia membawa Smart Chipsnya masing-masing). Semua berpulang pada keikhlasan kita masing-masing. Apakah kita dapat berbuat ikhlas dalam kondisi yang dibalik? Jawabannya ada pada Olah Roso.
Apa itu Roso dalam Budi Jawi? Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri.
Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)
Persamaan dan perbedaan Agami Kejawen dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya.
Bagi seorang Kejawen Sejati, yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Menghukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia.
Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya.
Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb). Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini.
Berderma atau bersedekah atau shodaqoh jariah tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan.
Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma.
Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa.
Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara dalam kejawen adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri, antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya.
Begitu luhur dan masuk akalnya ajaran leluhur dan budaya Nusantara sehingga masih terpelihara hingga hari ini sebagai perwkat kebangsaan dan mampu menjaga keberagaman
Mari kita pertahankan semangat budaya Nusantara dan kita dalami nilai- nilai luhur yang ada didalamya.
Salam Persatuan dan Cinta Indoneaia
Tito Gatsu.
Postingan Populer
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.2) KEJAWEN ADALAH BUDAYA NUSANTARA YANG TINGGI YANG MAMPU BERASIMILASI DENGAN SEMUA AGAMA...
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.5.) AJARAN KEJAWEN ADALAH AWAL PERADABAN DUNIA & MAKRIFAT SEORANG SUFI Jika kita mel...
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara FAKTA KEJAWEN ADALAH AGAMA YANG MENGENAL PERADABAN & PEMIKIRAN YANG TINGGI Luar biasa me...
-
MENGENAL AGAMA JAWA . Agama Jawa, berdasarkan disertasi Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum. yang sudah diuji dihadapan para penguji secara...





