This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

SANGKAN PARANING DUMADI

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 15) 

SANGKAN PARANING DUMADI AJARAN ASLI  INTROSPEKSI DIRI ORANG NUSANTARA 

Filsafat Jawa sangkan paraning dumadi adalah filsafat tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan menjadi pandangan hidup secara umum orang Nusantara 

Jika dirunut per kata, memiliki arti secara harfiah sangkan (asalmuasal), paraning (tujuan), dumadi (hidup manusia)

Dapat disimpulkan arti dari sangkan paraning dumadi memilikipengertian asal dan tujuan kehidupan manusia di dunia.

Bagi kaum Kejawen, mereka mempercayai bahwa manusia berasal dari empat elemen 

Kaum Kejawen menyebut keempat elemen  ini dengan sebutan“sedulur papat” atau “empat saudara”, yang meliputi sebagaiberikut:

1. Tanah
Tanah, berwarna hitam dan berkarakter gelap merupakananasir dalam tubuh manusia yang membentuk nafsu alamiah 

Sehingga manusia memiliki naluri makan dan minum untuk dijadikan energi yang berguna bagi keberlangsunganhidupnya.

Apabila nafsu alamiah  ini tidak terkendalikan, manusiaakan senang makan dan minum berlebihan, akibatnyamanusia mudah sakit dan malas melakukan aktivitas.

Dalam pewayangan digambarkan dengan tokoh Kumbakarna, tokoh yang rakus terhadap makanan lalu tertidur setelah perutnya kekenyangan.

2. Api
Api, berwarna merah dan berkarakter panas adalah sifat yang membentuk nafsu amarah manusia.

Dalam hal positif ini adalah naluri yang muncul yakni keberanian untuk mengadapi tantangan atau bahaya, bersemangat dalampekerjaan, dan pantang menyerah sebelum mencapaitujuan.

Jika nafsu amarah tidak terkendali, manusia akan mudah marah dan menghancuran segala hal yang tampak di depannya.

Dunia pewayangan menggambarkannya dengan tokoh Prabu Dasamuka, tokoh yang memiliki keberanian tinggi, tapi mudah naik pitam bila hatinya tersinggung.

3. Angin
Angin, warnanya kuning dan memiliki karakter indah merupakan  yang membentuk nafsu spirit atau ingin dihargai bagi manusia

Melalui nafsu ini, menjadikan manusia selalu tampil menawan menyukai keindahan, kesusastraan, seni, danasmara.

Seseorang yang didominasi oleh nafsu spirit , ia akanmenjadi sastrawan atau seniman, orang yang mengabdi pada keindahan.

Apabila nafsu spirit  tidak terkendali, ia akan menjadibudak keindahan, budak asmara yang dapat merusak jiwaraga.

Tokoh yang digambarkan dalam dunia pewayangan adalahtokoh Sarpakenaka, raksasa perempuan yang mempunyaibanyak suami (poliandri) untuk memuaskan nafsu berahinya.

4. Air
Air, dengan warna putihnya dan karakternya yang suci merupakan anasir yang membentuk nafsu muthmainah atau ketenangan  bagi manusia

Nafsu ketenangan  membuat manusia suka melakukankebajikan, menjunjung tinggi cinta-kasih, dan senantiasamenunaikan amalan yang diperintahkan tuhan.

Jika nafsu ketenangan  tidak terkendali, manusia akansombong dan senang memamerkan perbuatan baiknya padaorang lain, serta merasa dirinya suci.

Dunia pewayangan menggambarkannya dengan tokoh Gunawan Wibisana, tokoh yang lebih membela kebenarandan berperang melawan kakaknya sendiri..

Begitu tingginya ajaran leluhur Nusantara jauh dari ajaran halusinasi orang Arab ! Mari kita jaga nasionalisme Indonesia buang jauh-jauh ajaran Arab dan menerima Islam sebagai rahmatan lil  Alamin bukan budaya Arab yang primitif!

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia

Tito Gatsu

KOSMOLOGI YANG MASUK AKAL

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 14) 

AJARAN LELUHUR  NUSANTARA ADALAH WILAYAH KOSMOLOGI PALING MASUK AKAL

Jika ada beberapa pengulangan penulisan atau tema memang sengaja saya lakukan untuk lebih memahami filosofi dari ajaran yang sangat luhur ini guna membangkitkan nasionalisme dan kecintaan kepada leluhur Indonesia .

WILAYAH KOSMOLOGI MEMBUAT AGAMA TAK BERGUNA 

Wilayah Kosmologi Dr. Steven Weinberg Peraih Nobel Price Award , penemu teori Kuantum menulis banyak buku , termasuk satu tentang sejarah sains, “To Explain the World: The Discovery of Modern Science” (2015), dan tiga volume dengan total 1.500 halaman, tentang teori medan kuantum, yang menggabungkan fisika klasik, relativitas khusus dan mekanika kuantum. Serial ini secara luas dianggap sebagai teks definitif tentang masalah ini Tiga Menit Pertama,” yang memperoleh pembaca yang luas dan menjadikan kosmologi bidang yang terhormat bagi fisikawan. Dalam buku itu ia menggambarkan bumi sebagai “bagian kecil dari alam semesta yang sangat bertentangan dengan hukum agama dan yang terkenal, dan dengan manusia harus berpikir bebas tanpa sekat agama , menyimpulkan, “Semakin banyak alam semesta tampak dapat dipahami, semakin tampak agama tidak berguna.”

WAWASAN KOSMOS KEJAWEN

Kejawen tidak pernah membahas mengenai kosmologi kecuali wilayah Nusantara karena itu memang terbukti diluar jangkauan kemampuan berpikir umat manusia apalagi pada masa lalu. Jadi orang kejawen berpikir secara rasional termasuk masalah kosmologi. Kejawen memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana atau space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya yang harus tertanam pada penduduk Nusantara sehingga individu di Indonesia harusnya memahami dan mengamalkan ajaran ini jika diamalkan betapa Indonesia diyakini akan menjadi negara maju Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini Bawana adalah dunia dengan isinya.

KAWASAN KOSMOLOGI 

Bawana adalah kawasan kosmologi. Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Seperti tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame jagad rame atau ladang kejawalen ini dianggap sebagai bumi Nusantara dimana bila kita menanamkan kebaikan disini kelak akan menuai hasilnya baik untuk diri sendiri atau penduduk Nusantara. Pada tataran ini, orang menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah.

REALITAS HIDUP

Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup.Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.Suasana demikian oleh orang Nusantara disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.Teori Evolusi Dalam Kepercayaan Nusantara Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni: Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.

GENERATIO SPONTANEA

Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama samawi . Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi. Kubu ketiga yang diyakini oleh Kepercayaan Nusantara Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga kami tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya. Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan.

TEORI EVOLUSI 

Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini. Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Mencari Tuhan Ketika kita kecil kita sering dengar bahwa kepercayaan Nusantara atau kejawen itu keyakinan yang tidak mempunyai Tuhan atau agama yang Tuhannya belum diketemukan, karena mereka adalah orang-orang yang mencari Tuhan.

GUSTI

Memang kalau kita hanya menterjemahkannya sebatas kalimatnya saja terkesan memang demikian. Kalau kita bertanya? Apakah orang-orang yang Mencari Kedamaian adalah orang-orang yang kehilangan akan konsep Kedamaian itu sendiri? Saya pikir anak kecil pun tahu, bahwa bagi orang-orang yang Mencari Kedamaian tersebut adalah orang-orang yang belum mengerti akan arti Kedamaian itu sendiri. Jadi dalam arti Kejawen, Mencari Tuhan bukan berarti mencari Tuhan, tetapi lebih dalam lagi artinya, yakni bahwa dirinya dalam Olah Roso, belum mendapatkan hubungan yang transendental dengan Gusti. Sehingga seorang Kejawen akan terus melakukan pencarian tersebut, manakala dirinya belum dapat berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa secara transendental. Gusti Allah Banyak orang Indonesia yang menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan Gusti Allah.

Di sisi lain kita tahu, bahwa hukum Tata Bahasa kita adalah hukum DM (diterangkan menerangkan) sehingga dari kata Gusti Allah jelas bahwa kata Gusti ada sebelum kata Allah (2000 tahun SM), sementara kata Gusti yang digunakan oleh Kedjawen sebagai penghargaan tertinggi dalam menyebut Tuhan Yang Maha Esa sudah ada pada 4425 tahun Sebelum Masehi. Dari hukum DM dapat dibuktikan bahwa, konsep Tuhan Yang Maha Esa sudah ada terlebih dahulu dalam diri seorang Kejawen, sebelum sebutan Allah disosialisasikan di dunia. Ketika agama pendatang ingin mamasukan pola pikirnya ke dalam masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutannya sendiri. Pertama-tama mereka mencoba menggantikan kata Gusti dengan kata Tiada Tuhan Selain Allah, namun karena orang-orang Indonesia pada saat itu adalah orang-orang yang Internalistik Religius, sehingga sangat sulit untuk menggantikan kata Gusti dengan kata Allah.

Untuk itu, mereka merubah strategi dengan menyisipkan kata Allah pada kata Gusti, tetapi lagi-lagi, karena kata Gusti sudah mendarah daging dalam pikiran orang Indonesia, sehingga mereka menurunkan kata Allah itu sendiri menjadi kata sifat. Yakni Gusti Allah, yang dalam terjemahannya Gusti adalah Allah. Analoginya Jas Merah adalah Jas berwarna Merah. Setelah kata Gusti Allah diterima oleh penduduk lokal, maka mereka melakukan strategi berikutnya, yakni dengan mensosialisasikan bahwa Gusti adalah sanjungan pada kata Allah. Kemudian Gusti diartikan dengan Sang Pangeran, lagi-lagi ini pemutarbalikan fakta oleh agama pendatang. Bagi anda yang ingin menjadi Kejawen Sejati, seyogyanya setelah mengerti Jas Merah (jangan suka melupakan sejarah), mulai sekarang hanya menggunakan kata Gusti untuk mengagungkanNYA. Internalistik Religius dan wilayah kosmologi adalah sebuah perilaku yang sudah sangat melekat pada motorik orang Indonesia. 

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia

Tito Gatsu

KEJAWEN YANG TERPELIHARA

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 13) 

BALI  ADALAH PENINGGALAN KEJAYAAN NUSANTARA DAN KEJAWEN YANG TERPELIHARA WALAU SINKRETIS DENGAN HINDU 

KEJAYAAN NUSANTARA  DIAKUI DUNIA 

Saya tidak perlu menjelaskan lagi bahwa Kejawen adalah awal dari peradaban dunia yang sangat sinkretis dengan agama -agama impor dan yang sampai saat ini terpelihara dengan baik adalah di Bali karena Hindu Bali berbeda dengan Hindu dari India Hindu Bali punya banyak kesamaan dengan kejawen. 

KONSEP KEJAWEN DALAM HINDU BALI

Prinsip dasar Kejawen adalah Manunggaling Kawulo Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti artinya setiap mahluk pada akhirnya akan kembali menyatu kepada Tuhan sebagai sang pencipta.

Manunggal berarti kembali bersatu kepada Sanghyang Tunggal, Ida Sanghyang Widhi Wasa (moksa) untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Kawula diartikan sebagai hamba, mahluk atau ciptaanNya.
Gusti diterjemahkan sebagai Tuhan, Dzat Yang Maha Menciptakan yaitu Beliau yang sangat dekat yang ada di dalam diri kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita;
Dalam Hindu Dharma, 
ajaran ini sama halnya seperti kita memahami tentang moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman kembali.
Mempelajari ilmu tentang Manunggaling Kawula Gusti ini bukan belajar untuk menjadi Gusti atau Tuhan. 

Namun mempelajari ilmu Manunggaling Kawula Gusti ini adalah belajar mengenal, mengerti, memahami, dan memanfaatkan potensi maksimal dari keberadaan Dzat Gusti yang ada dalam diri setiap makhluk untuk kemaslahatan alam semesta, dan mahlukNya.

Ketika seseorang memahami dengan sepenuhnya bahwa dalam diri setiap makhluk itu ada keberadaan Dzat Gusti, 
maka dengan otomatis, dia tidak akan mampu untuk menyakiti makhluk lainnya, meskipun dirinya sendiri disakiti terlebih dahulu. 

Bagaimana dia mampu menyakiti makhluk lain jika menyakiti seseorang yang terdapat keberadaan Gusti di dalamnya dapat diartikan dengan ia menentang keberadaan Gusti itu sendiri?

Lalu Bagaimana kalo sudah MANUNGGAL..? itu berarti DIAM. Tak ada lagi kata2 yang saya mampu untuk menggambarkannya.

Pahami bahwa pada hakekatnya pencapaian terindah dan syahdu dalam Ketuhanan adalah DIAM, hening.... 
Lalu menuju SUWUNG (Sunia Loka).

Pada konsep yang lebih jauh, memahami keberadaan Dzat Gusti di dalam diri kita, dapat digunakan untuk menuntun kita dalam menjalani hidup dengan damai, tenang dan lebih berkesadaran. 

Maka hidup akan menjadi lebih mudah, dan indah karena kita selalu diperkaya dengan welas asih dan kasih sayang

NUSANTARA SEBAGAI NEGARA BESAR

Dalam sejarah tercatat nama Nusantara ada dalam kitab Nagarakertagama  yang  merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO.  Jadi nama dari mulai Mataram, Pajajaran , Singosari, Sriwijaya, (di Sumatera),  Martapura  (di Kalimantan ), Tidore ( di Maluku) Kakawin (di Papua) dan Majapahit adalah representasi dari nama tempat atau lambang kerajaan di Indonesia atau Nusantara, secara kebetulan Mataram adalah pusat kerajaan Nusantara ketika berpusat di Yogjakarta . 

Garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti. 

Tahun 2010 sekelompok pengusaha Jepang dipimpin Takajo Yoshiaki membiayai pembuatan kapal Majapahit atau Spirit of Majapahit yang akan berlayar ke Asia. Menurut Takajo, hal ini dilakukan untuk mengenang kerjasama Majapahit dan Kerajaan Jepang melawan Kerajaan China (Mongol) dalam perang di Samudera Pasifik. 

Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni. 

Bahkan ada perguruan silat bernama Kali Majapahit yang berasal dari Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali Majapahit ini mengklaim berakar dari Kerajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina, Singapura, Malaysia dan Selatan Thailand. 

Begitu luar biasanya Indonesia pada masa lalu , sayang pemerintah Orde Baru melakukan politisasi sejarah dan melarang referensi buku dari luar sehingga kejayaan Indonesia tidak atau kurang tergali. 

JAMAN KEGELAPAN 

Jaman islamisasi di Pulau Jawa di abad ke 16 pada masa Pemerintahan Brawijaya V memang bisa dianggap masa kegelapan seiring dengan pengkhianatan Raden Patah kepada ayahandqnya Raja Brawijaya V   masyarakat Majapahit mengalah dan  banyak berpindah ke Bali , pegunungan Tengger , Blambangan dan di daerah  Banten Kuno. Semua peninggalan kerajaan majapahit dihancurkan terutama di pusat pemerintahan di Jawa Timur (Trowulan, Majapahit dan Singosari). 

Di India masa pendudukan Islam pada abad ke 13 dianggap masa kegelapan oleh orang India terutama yang beragama Hindu karena  mereka  menghancurkan seluruh budayanya hingga kota-kota seperti Palawa dan Hastina Pura hilang tak berbekas. 

Begitu juga di negara - negara Eropa ketika kekhalifahan Ottoman menguasai Bulgaria dan Armenia  yang menghancurkan hampir  semua  artevak dan peninggalan kerajaan Romawi disana  tapi masalah tersebut tidak akan kita bahas disini  saya hanya ingin menggambarkan begitu hebatnya budaya Nusantara pada masa lalu. 

Kita bisa melihat beberapa negara di Timur Tengah dalam waktu sekejap bisa luluh lantak , semua karena poltisasi agama . 

BALI ADALAH KEJAYAAN NUSANTARA DAN AJARAN KEJAWEN  YANG TERPELIHARA 

Bali adalah pusat kebudayaan yang diakui sebagai peninggalan kebudayaan tertinggi di Dunia dilihat dari semua sisi kita bisa melihat akhlak perilaku orang Bali yang begitu dicintai turis mancanegara dan Bali adalah representasi Majapahit.

Peninggalan kejayaan Nusantara dalam hal ini  Majapahit masih ada sampai sekarang yaitu di Bali. 

Pada masa lalu Bali yang sudah di Hindukan karena tidak bisa di Islamkan atau diarabisasi tapi lambat laun akan menjadi Arab kalau dibiarkan. 

Majapahit adalah bukan kerajaan Hindu tapi kejawen dan penyatuan Siwa Buda. 

Pada tahun 1961 Hindu di sahkan oleh Pemerintah sedangkan praktek-praktek di Bali sudah ada Ribuan  tahun sebelumnya. Pada tahun 1968 Pemerintah Orde Baru mewajibkan warga negara Indonesia memeluk agama impor dan penduduk Bali sebagian besar lebih memilih agama Hindu. 

Hindu identik dengan India Tapi Majapahit Bali tidak identik dengan India. 

Majapahit Bali semua menghormati leluhur 

Bali yang tidak punya Kawitan dan menjang Sluwang Majapahit atau Siapa yang tidak melaksanakan odalan dan mecaru serta Upacara Ngenteg linggih yang menghormati leluhurnya . 

Pure boleh dikatakan tempat ibadah Hindu Tapi Pura/Puro adalah Keraton Stana yang merupakan penghormatan  leluhur. 

Sabda Palon meramalkan bahwa seorang putra Bali atau keturunan raja Nusantara akan kembali mempersatukan Nusantara ini terbukti dengan lahirnya sang Proklamator Ir. Soekarno yang ibundanya seorang bangsawan Bali.

Semua orang tahu akan Ramalan ini, tapi bagi yang tidak tahu silahkan baca terjemahannya dan akan mendapatkan kasunyatan, Majapahit tidak perlu pengakuan tapi Dunia mengakui Majapahit sejarah dan budayanya hanya bangsa sendiri saja yang belum membanggakannya, contoh Candi Borobudur diakui Dunia tapi karena bangsa ini tidak bangga akhirnya ya..menjadi hilang jati dirinya, malah membanggakan budaya Arab yang tidak beradab  di padang pasir. 

Lihatlah bagaimana setiap orang di negara lain membanggakan peninggalan leluhurnya yang terawat. Disni ada yang berjuang, yang memang kewajiban Beliau untuk berjuang malah ditutup dan di sunat “seperti adat Arab” tidak boleh memberikan kasunyatan padahal Dunia mengakuinya). 

Cintai Budaya Nusantara lawan semua pengkhianat Bangsa yang ingin menghancurkan budaya dan berkedok agama demi kejayaan Nusantara.

Salam Damai dan Persatuan Cinta Indonesia 

Tito Gatsu.

KEJAWEN TIDAK BUTUH IMAN DAN DOGMA

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 12) 

AJARAN LELUHUR NUSANTARA TIDAK BUTUH IMAN DAN DOGMA KARENA ITU ADALAH PEMBUNUHAN LOGIKA  SERTA PENCUCIAN OTAK YANG SEMPURNA

□ IMAN DAN DOGMA 

Iman dan dogma adalah sebuah proses pembuntuan yang sistematis bagi pikiran seseorang dalam mengembangkan pola pikirnya yang kritis. Dengan iman dan dogma jelas-jelas orang tidak diperkenankan mengkritisi isi dari ayat-ayat bahkan dalil sebuah agama. 

Ajaran Lelluhur Nusantara atau kejawen mengajarkan kita, bahwa segala sesuatu dalam sebuah agama atau kepercayaan haruslah mempunyai landasan logika yang benar dan menyeluruh. Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, bagi sebagian besar agama merupakan keimanan yang datangnya dari dogma, dan tidak boleh dipertanyakan atau haram dan menjadi kafir jika di pertanyaan.

□ TIDAK PERLU MEMPERCAYAI YANG TIDAK ADA 

Bagi seorang Kejawen, kita tidak perlu mempercayai yang tidak ada. Tetapi dengan Olah Roso yang benar, seorang Kejawen pasti merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dalam kejawen , tidak diajarkan untuk mempercayai yang kita tidak dapat rasakan, apalagi kita tidak tahu. 

Jelas dengan proses Cuci Otak yang dilandasi dari ayat-ayat Kitab Suci agama tertentu. Saat ini banyak sekali kejahatan yang mengatasnamakan demi keimanan sebuah agama, dirinya rela melakukan pembunuhan bahkan menghujat orang lain karena merasa paling benar. 

Karena  orang tersebut tidak tahu akan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, apalagi merasakannya, yang didapat dari proses Olah Roso. Sebab kalau orang tersebut dapat merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa di sekelilingnya, dapat dipastikan orang tersebut tidak akan melakukan pembunuhan atau menghina  kepada ciptaanNya. 

□ AKAL SEHAT 

Akal sehat adalah sebuah proses pemahaman atau proses analisa pikiran yang logis, yang tentunya tidak merugikan pihak lain. Jadi kalau agama itu memang ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, mana mungkin Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu Segala-galanya membiarkan penganut agama-agama ciptaanNya bertarung sendiri berebut kebenaran. Yang tentunya merugikan pihak lain. 

Dengan menggunakan akal sehat maka dalam ajaran kejawen,  kita tidak memerlukan dogma, seperti yang digunakan oleh agama-agama rosul atau agama-agama import, sebagai alat untuk menegasi pikiran-pikiran yang kritis yang tidak dapat terjawab oleh Kitab Suci mereka. 

□ PAHLAWAN DAN PENGKHIANAT 

Secara psikologis, pikiran yang dikooptasi memerlukan apa yang disebut pengakuan eksistensi dari eksistensinya yang hilang karenanya. Oleh sebab itu, maka dogma perlu memberikan pengakuan kepada yang memberikan komitmen kepadanya. Untuk kepentingan itu, iman adalah predikat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikatkan diri pada dogma itu sendiri. 

Pahlawan adalah orang yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara (Kerajaan), sementara penghianat adalah orang yang tidak setia kepada Bangsa dan Negara (Kerajaan), dan bahkan menghalalkan segala cara (machiavellian) untuk menelikung teman, saudara atau bahkan orang-tuanya sendiri. 

Dalam mayoritas agama yang ada di dunia, iman adalah senjata ampuh ketika penganut atau calon penganut agama tersebut mulai bertanya dengan logika. Kaitan-kaitan ayat-ayat yang ada di kitab sucinya, dengan membandingkan dengan kehidupan sehari-hari. 

□  AJARAN LELUHUR NUSANTARA ADALAH KEPERCAYAAN YANG LOGIS 

Ajaran leluhur Nusantara yang dikenal dengan Kedjawen  adalah agama atau kepercayaan yang logis, karena keyakinan harus dibarengi dengan logika yang masuk akal. Karena keberadaan Dzat yang disebut Gusti tersebut eksistensinya dalam pikiran manusia didapat dari Olah Roso. 

Banyak agama yang memulai dari Adam dan Hawa, di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka tahu adanya proses evolusi manusia purba ke manusia modern. Di sinilah senjata ke-imanan dipermainkan oleh agama-agama yang mengandalkan kitab suci. 

Bagi Kedjawen, kontradiksi itu tidak perlu terjadi. Karena proses evolusi terjadi di pulau Jawa, atau di lokal tempat Agami Jawi berkembang. Jadi proses adanya Tuhan Yang Maha Esa dalam pikiran Manusia adalah sebuah proses pencarian Olah Roso, yang sudah dimulai sekitar 4425 tahun Sebelum Masehi. Di sinilah mengapa kejawen  adalah agama yang logis dan dapat dibuktikan, tanpa perlu adanya dogma yang dipaksakan kepada penganutnya. 

Begitu tingginya warisan leluhur Nusantara mengajarkan kita untuk kehidupan yang lebih baik , semoga ajaran leluhur Nusantara kembali menjadi tuan rumah di negri sendiri dengan kebangkitan nasionalisme Indonesia. 

Salam Damai Persatuan  dan Cinta Indonesia, 

Tito Gatsu

KEJAWEN LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 11) 

KONSEP KETUHANAN MIKRO KOSMOS ORANG NUSANTARA LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN 

Konsep Ketuhanan Leluhur orang Nusantara sebenarnya luar biasa  brilian dan masuk akal  serta sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi.

® TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ILMU PENGETAHJAN DAN AGAMA APAPUN 

Sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa konsep ketuhanan Manunggaling Kawulo Gusti memang terbukti juga tidak menyalahi Teori evolusi yang dikenal dengan Teori Darwin.

Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga kami tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya. 

Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini. 

Hal yang menguatkan logika berfikir orang Nusantara  adalah  bahwa Bapak Teori Evolusi Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa. 

Bahkan luarbiasanya ajaran Nusantara ini dapat berasimilasi dengan agama apapun karena ajaran Kejawen tidak memiliki dogma jika kita beragama apapun kita akan lebih menghayati Kehadiran tentang keesaan  Tuhan dengan lebih mendalam.

® HYANG GUSTI  JUMENENG SAGUNG DUMADI SAHA SUKSMA INGSUN

Jagad Alit atau Mikrokosmos adalah Semesta di dalam diri.

Jagad Gedhe atau Makrokosmos adalah Semesta di mana kita tinggal.

Ada di katakan, "Hyang Gusti Pukulun kang akarya jagad gedhe saha jagad alit, jumeneng ana sagung dumadi saha sukma ingsun" yang artinya "Tuhan Yang Mahakuasa yang menciptakan Alam Semesta, bersemayam di dalam segala ciptaan dan juga jiwaku."

Tuhan di Alam Semesta yang luas itu dengan Tuhan di Alam Semesta yang ada di dalam jiwa kita adalah Tuhan yang sama.

Dia begitu besar hingga kita tertelan di dalam-NYA. Dia juga amat kecil hingga bisa ada di dalam semua ciptaan serta jiwa kita.

Tuhan dan Manusia, "Adoh tanpa wangenan, cedak datan sengolan" artinya, "Jauh tanpa jarak, dekat tak bersentuhan".

® KONSEP JAGAD ALIT ATAU MIKRO KOSMOS 

Seperti kita ketahui orang Nusantara menyebut Tuhan dengan panggilan Gusti , apa itu arti Gusti ?

Gusti diartikan sebagai "bagus ati ' agau hati yang bersih atau keluhuran Budi atau  kita akan merasakan adanya Tuhan jika hati kita dipenuhi oleh kebaikan .
Dalam konsep jagat alit atau mikro kosmos dalam diri manusia sendiri ada 9 pintu surga dan neraka kemana kita akan menuju kita sendiri yang menentukan .
9 pintu surga dan neraka itu atau disebut Lawang songo adalah bagaimana kita memelihara ruh yang ada dalam jasad kita itu adalah semua lubang yang berhubungan dengan penca indera , yaitu :

Mata = 2, hidung = 2,  telinga = 2 , mulut = 1,  kemaluan = 1 dan dubur = 1 .

® MATA 

Mata harus selalu kita jaga kita  bisa melihat keindahan itulah surga sesungguhnya dan jika kita melihat keburukan adalah neraka yang sesungguhnya , bagaimana kita agar bisa melihat pemandangan yang menyenangkan ? Pada prinsipnya kita harus mampu mengendalikan diri kita 
agar selalu bisa melihat pemandangan yang baik ,misalnya membuat bersih lingkungan , menghindari hal- hal yang buruk dengan menjauhkan pandangan dari hal yang bisa merusak pemandangan 

®TELINGA 

begitu juga dengan telinga kita menghindari pergaulan yang buruk , mempergunjjngkan dan menhhujat orang lain maka kita akan selalu dibawa ke surga dengan selalu mendengar berita yang baik. Dan selalu berusaha agar mencegah berita yang buruk seperti makian , ancanan dan lain sebagainya.

® HIDUNG 

Hidung adalah panca indera yang tajam dalam mendeteksi keadaan , kita bisa mengenal makanan enak hingga akhlak perilaku seseorang melalui hidung bagaimana seseorang menjaga kebersihan dan merawat badan tentunya kita punya kriteria dan intuisi yang terukur , jika kita mendapatkan surga tentu kita akan selalu berada ditempat harum dan dineraka tentu baunya busuk.

® MULUT 

Mulut adalah alat perang kita dimana orang bisa menilai akhlak perilaku kita dari bagaimana kita menggunakan mulut . Jika kita mempergunakan mulut dalam berbicara dengan baik tentu kita selalu mendapatkan sorga begitupula kebalikannya demikian pula dengan makanan jika mekanan itu baik kita akan merasakan tubuh kita baik jika buruk atau tidak dapat mengendalikan diri akibatnya akan buruk pula.

®  KEMALUAN 

Apa yang kita keluarkan pada kemaluanpun demikian bisa berkah bahkan surga kenikmatan  bahkan menghasilkan anak yang Sholeh tapi bisa juga bencana yang menjadikan neraka dalam kehidupan kita.

® DUBUR 

Dubur adalah representasi pembuangan dari setiap yang masuk ke tubuh kita jika makanan itu baik tubuh kita sehat dan kita selalu berada di surga kenikmatan begitu juga sebaliknya kita akan sering menemukan kehidupan seperti di neraka. 

® LAWANG SONGO DAN RUH 

Dalam prinsip kehidupan orang Jawa menekankan kehati-hayian dalam hidup artinya pengaruh panca Indra dengan 9 
Lubang tadi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ruh kita, apa itu ruh ?
Ruh adalah keadaan hati yang mempengaruhi spiritual kita  jika kita bicara jasmani  kita akan membuang semua kotoran yang ada di semua panca indera kita agar jasmani kita ringan begitu juga ruh , agar ruh kita ringan kitapu harus membuang semua yang bersemayam dalam ruh kita dan jangan  biarkan membusuk , seperti dendam, iri hati, kecewa , nafsu serakah dan lain sebagainya karena ini mempengaruhi hati karena prinsip orang Nusantara adalah menghargai Tuhannya dengan sebutan Gusti atau Bagus Ati atau hati yang bersih jadi bagi ajaran spiritual Nusantara jika hati kita kotor atau penuh prasangka buruk atau apalagi sifat buruk mustahil bertemu dan menghargai Tuhannya.

Ajaran spiritual termasuk agama bukanlah sebuah kebenaran absolut karena tak bisa dibuktikan secara ilmiah tapi  semua tergantung hati nurani tapi saya hanya menggambarkan  sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa Indonesia . 

Salam Persatuan dan Cinta Indonesia,

Tito Gatsu

MENGENDALIKAN HAWA NAFSU

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 10) 

SULUK SALOKA JIWA 

BAGI ORANG NUSANTARA  BERAGAMA ADALAH  UNTUK MENGENDALIKAN HAWA NAFSU 

AGAMA ADALAH BUDAYA 

Ada perbedaan mendasar tujuan beragama bagi tiap - tiap  individu, hal ini bisa kita lihat dari kultur di beberapa negara , masing-masing agama disesuaikan dengan budaya lokal dan itu sangat berkaitan erat dengan kemajuan bangsanya. 

Misalnya Jepang yang sebagian besar beragama Sintho  walaupun akhirnya mereka memeluk agama atau kepercayaan lain tapi mereka tak pernah melupakan ajaran leluhurnya. Shinto cenderung berfokus pada perilaku ritual daripada doktrin. 

Filsuf James W. Boyd dan Ron G. Williams menyatakan bahwa Shinto adalah "tradisi ritual yang pertama dan terkemuka", sementara Picken mengamati bahwa "Shinto tidak tertarik pada kepercayaan tetapi pada agenda, bukan pada sesuatu yang harus dipercayai tetapi pada sesuatu yang harus dilakukan. 

"Sarjana agama Clark B. Offner menyatakan bahwa fokus Shinto adalah pada "mempertahankan tradisi seremonial komunal untuk tujuan kesejahteraan manusia (komunal)".Seringkali sulit untuk membedakan praktik Shinto dari kebiasaan Jepang secara lebih luas,dengan Picken mengamati bahwa "pandangan dunia Shinto" memberikan "sumber utama pemahaman diri dalam cara hidup orang Jepang".Nelson menyatakan bahwa "Orientasi dan nilai-nilai berbasis Shinto terletak pada inti budaya, masyarakat, dan karakter Jepang". 

Kita bisa melihat masyarakat Jepang bisa begitu maju dan progresif karena mereka memperlakukan agama sebagai tanggung jawab Individu , mereka tidak menyebarkan agama kepada bangsa lain itulah yang justru menjadikan kesuksesan mereka mampu berulangkali menguasai dunia baik dalam hal kemiliteran maupun ekonomi  karena menganggap agama bukan identitas dan yang menjadi identitas adalah bangsa  tapi meresap di Individu mereka untuk berperilaku dan bekerja dengan lebih baik. 

Jika agama Samawi yang lahir di Timur Tengah antara Jazirah Arab dan Israel  tujuannya adalah harakah atau dakwah  dan melakukan infiltrasi atau penaklukan negara juga merubah budayanya  bahkan itu bisa menjadi sebuah sistem politik , bisa kita lihat  penyebaran Islam di dunia malahan tidak memajukan bangsa Arab , Arab Saudi sendiri menjadi negara berdaulat mendapatkan  hadiah dari Inggris setelah kekalahan kekhalifahan Ottoman yang berpusat di Turki , faham Islam terbesar adalah Suni  yang di bawa bangsa Turki melalui bani Umayah dan kekhalifahan Ottoman atau Utsmani dan Syiah yang dibawa bangsa Persia  atau Iran melalui kekhalifahan  Abbasyiah  jadi sebenarnya tak ada aliran Islam yang besar kecuali  Suni , Syiah dan Islam Nusantara yang mengadopsi ajaran leluhur Nusantara sedangkan sekte atau aliran pemurnian Islam dari bangsa Arab sendiri selalu berperang antara sesama mereka dan cenderung saling menghancurkan. 

SULUK SALOKA JIWA 

Suluk Saloka Jiwa adalah Karya Ranggawarsita yang ditebitkan oleh percetakan Albert Rusche, Surakarta 1915. Karya ini di cetak dengan buruf dan bahasa jawa, setebal 32 halaman, dan bersekar macapat. Isi serat ini adalah merupakan sebuah kisah simbolik tentang perjalanan spiritual dan perkawinan antar  agama terhadap kebudayaan lokal.

DI INDONESIA TUJUAN BERAGAMA UNTUK MENGENDALIKAN HAWA NAFSU 

Begitupula sebenarnya dengan Indonesia hanya sikap sinkretis masyarakat Indonesia atau Nusantara mengakibatkan justru terjajah oleh budaya asing walaupun demikian orang Indonesia tetap bisa berasimilasi dengan semua Agama hingga Pujangga Besar Rangga Warsita  mendefinisikan bahwa agama di Indonesia atau Nusantara adalah mempunyai tujuan. Utama untuk mengendalikan hawa nafsu. 

Indonesia saat ini sedang tumbuh euvoria beragama terutama umat Islam tapi lupa bahwa dasar agama itu akhlaqul kharimah , dalam definisi suluk saloka Jiwa dijelaskan bahwa pada hakekat dasar manusia adalah berbuat baik, berani menahan diri untuk tidak menuruti nafsu terutama harta dan kekuasaan karena jika lalai dalam hal itu maka percumah segala ibadahnya. 

Jadi dalam ajaran jawa atau Nusantara dijelaskan bahwa apapun bentuk amal jika dilandasi dengan hal yang kotor akan menjadi sia-sia atau neraka , misalnya membangun masjid dari hasil.korupsi, menolong orang dari hasil  memeras  orang lain bukanlah hal yang baik tetapi tidak menolong orangpun tapi menjaga perilaku yang baik itulah yang dinamakan surga. Semakin jelas bahwa islam Nusantara yang direpresentasikan oleh Suluh Saloka Jiwa karya Pujangga Rangga Warsita adalah mengutamakan budi pekerti manusia Indonesia dan keluhuran akhlaknya. 

Suluk Saloka Jiwa adalah Karya Ranggawarsita yang ditebitkan oleh percetakan Albert Rusche, Surakarta 1915. Karya ini di cetak dengan buruf dan bahasa jawa, setebal 32 halaman, dan bersekar macapat. Isi serat ini adalah merupakan sebuah kisah simbolik tentang perjalanan spiritual dan perkawinan antar  agama terhadap kebudayaan lokal. 

TIDAK PERLU BERPINDAH AGAMA UNTUK MENGIKUTI AJARAN LELUHUR INDONESIA 

Di kisahkan dalam serat ini tentang Syeh Suman yang pergi ke Turki untuk mendalami ajaran Marifat dari master-master sufi di Turki. 

Di Turki Syeh Suman bertemu dengan seorang master bernama Syeh Usman Najib. 

Sebagai seorang Dewa Hindu, maka Wisnu yang menjelma sebagai Syeh Suman yang akan berguru ilmu keislaman, tetap beragama Hindu namun batinnya memeluk agama Islam. 

Hal ini menerangkan bahwa tidak harus pindah agama untuk mendalami ilmu marifat, yang terpenting adalah jiwanya, jiwanya Tunduk kepada Kehendak Dia yang Maha, dan dapat melihat kehadirannya di Timur dan Barat, dan kemana wajah dipalingkan maka yang terlihat adalah DIa, yang satu dan esa adanya. 

Di dalam kisah ini ada dialog  Mistik Usman Najid, Takrul Alam, Bukti Jalal, Pramana Jati, Brahmana Darma, dan Syeh Suman. 

Dialog Tanya jawab ini membeberkan tentang Ilmu kesempurnaan, 

“Sesungguhnya sebelum ada apa-apa, dalam kondisi awing uwung (keadaan kosong), yang ada hanya Tuhan. Tuhan menciptakan cahaya Nu ru’yah, kemudian menjadi unsur-unsur yang terurai menjadi tanah, api, angin (udara) dan air. 

Kemudian unsur-unsur itupun terurai kedalamberbagai bentuk unsur yang kemudian menjelma menjadi kehidupan di dunia. 

Adapun dialog tentang adanya Tuhan dan hubunganya dengan manusia di uraikan sebagai berikut, Tuhan telah ada sebelum adanya alam kosong. 

Tuhan telah bersemayam dalam mukat ghaib. Tuhan diibaratkan sebagai halnya huruf Alif, yang di sifati dengan wajib al-wujud. Istilah wajib al Wujud dalam ilmu kalam, berarti ada dari Dzat-Nya sendiri, tanpa sebab dari luar. Dan adanya adalah wajib artinya pasti  adanya.  Adapun sifat-sifat Tuhan diuraikan sebagai : 

Yang Esa itu sungguh satu adanya, dan hanya benar-benar satu adanya. 

“Jangan berhenti selalu berusaha membuat kebajikan, Agar mendapat kegembiraan, Serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, Terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, Caranya harus gemar prihatin. Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, Intropeksi, telitilah jangan sampai salah, Endapkan dalam hati, Agar mudah menanggapi sesuatu. Dapatnya demikian kalau senantiasa Mendambakan kebaikan, Mengendapkan pikiran, Dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong Tetapi sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati Sebagalnya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. 

Sebab jika bergeser dari hidup yang penuh kebajikan Akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul (Pikiran liar), 

Yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak (hasrat dan keinginan liar) Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, Sudah jelas akan menjadi sarang iblis, 

Senantiasa mendapat kesulitan-kesilitan (hidup di dalam neraka), Kerepotan-kerepotan, Tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, Seolah-olah mabuk kepayang (hilang kesadarannya) Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju pada kebajikan. 

Segala yang baik-baik lari dari dirinya. Sebab sudah meliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhan dan keesaan Tuhan. Inti dari ajaranpun (keagamaan) musnah berkeping-keping. Tapi demikian yang melihat, Bagai matanya kemasukan pasir, Tidak dapat membedakan yang baik dari yang jahat, Sehingga yang jahat lebih disukai dan dianggap utusan Tuhan"  

Begitu tingginya falsafah Jawa yang menjadi sumber inspirasi Islam Nusantara oleh karenanya Islam di Indonesia memiliki peradaban tertinggi di dunia 

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia. 

Tito Gatsu

AJARAN YANG MEMULIAKAN MANUSIA

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 9) 

AJARAN MAKRO KOSMOS LELUHUR NUSANTARA MEMULIAKAN MANUSIA 
AJARAN AGAMA IMPOR UNTUK MENGUASAI MANUSIA 

® SINKRETISME AJARAN LELUHUR NUSANTARA SEDANG DIFITNAH DAN DIHANCURKAN

Dalam kehidupan sehari - hari para penceramah agama terutama dari agama Islam yang terpapar ajaran radikal mereka menanamkam ketaatan bagi ulama (versi mereka) yang tak hentinya melakukan ujaran kebencian dan menggunakan dalil-dalil untuk menguasai manusia atau jamaahnya mereka satu komando yang tentu bisa diperintah siapa saja yang "bisa saja" membayar mereka karena kenyataannya para ustad dan ulamanya kaya raya bisa punya kendaraan mewah dan jalan jalan ke luar negri. Karena target mereka adalah mendirikan negara khilafah kemudian menyerahkan kedaulatan rakyat kepada negara imperialis atau kapitalis  mereka tidak perduli jika Indonesia berantakan yang penting mereka bisa kaya raya , kita bisa lihat dari ceramah seorang Ulama HTI keturunan Tionghoa Felix Siauw yang mengatakan bahwa tak ada dalil Cinta tanah air yang ada dalil khilafah ... Hmmm sebuah pemutar balikan dan terorisme yang didiamkan saja? Saya juga tak mengerti.

Di Indonesia untungnya ada NU yang tetap konsisten mendahulukan logika berpikir dan sinkretisme ajaran Nusantara yang begitu luhur jadi masyarakat malahan semakin tau keluhuran budaya Nusantara dan kejahatan orang - orang yang berusaha menghancurkan budaya dan bangsanya demi keuntungannya sendiri dan golongannya 

® KONSEP KETUHANAN LELUHUR NUSANTARA

Berbeda dengan konsep ketuhanan pada agam-agama lain yang menyerahkan segala sesuatu kepada logika mistik dimana semua menjadi ketentuan Tuhan  , konsep ketuhanan leluhur Nusantara justru sangat memuliakan manusia,  bahwa sebagai ciptaan Tuhan  manusia mampu mengatur alam semesta , justru karena keberagaman dan menghargai sesama manusia itulah yang membuat manusia bisa mengatur dan menguasai alam semesta.

®JAGAD CILIK DAN JAGAD GEDE

Ternyata manusia itu merupakan perwujudan kecil dari dunia. Miniatur Alam Semesta adalah manusia ini, karena sesungguhnya dalam diri manusia itu terdapat apa yang juga terdapat di dunia ini, ada gunung, pohon besar, sungai dan samudra. Maka disebutlah jagad cilik, sedangkan alam semesta disebut jagad gede.

Jagad cilik selalu berhubungan dengan jagad gede, kalau terputus hubungannya maka mati maka hubungan itu diwujudkan dalam pernapasan, jagad cilik  membutuhkan hawa untuk menghidupkan nyawa sebab nyawa tanpa hawa akan mati.

Pupuh Gambuh

Jembaring samudragung, Tanpa tepi anglangut kadalu, Suprandene makasih gung manungsa iki, Alas jurang kali gunung, Neng raganira wus katon.

Artinya :

Luasnya samudra raya, Tiada bertepi dan sejauh mata memandang, Tetapi masih besar adanya manusia ini, Hutan jurang sungai gunung, Di dalam diri manusia.

(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)

Mengapa manusia digambarkan lebih besar dari jagad raya ini? Karena apa yang terlihat besar dan menakutkan itu sebenarnya dapat masuk kedalam diri manusia sehingga Pakubuwono IV menegaskan dalam baris tembang berikut ini :

Tana prabedanipun, Jagad katon lan jagadireku,

Artinya :

Tiada berbeda, Dunia yang terlihat dan dunia dalam dirimu,

(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)

Pada bagian yang disekarkan (disyairkan) Gambuh, artinya dijumbuhkan atau dirujukan dalam tembang itu tentang dunia nyata dan dunia batin, sebagai suatu upaya untuk mendekatkan manusia kepada kenyataan untuk berpikir tentang hidup dan rasa yang paling dalam.

Dengan membuat rujukan-rujukan itu, agar manusia faham benar akan dirinya. Faham akan makna hidupnya, agar tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk perbuatan yang bukan-bukan, jangan sampai membuat kesalahan dan menghancurkan lingkungan. Karena apa yang terlihat secara nyata sebagai lingkungan hidup terlihat pula dalam batiniah pada dirinya sendiri. Rusaknya lingkungan hidup maka rusak pula dalam dirinya sendiri.

Pupuh Gambuh

Yen sira durung surup, Tegese jagad cilik lan agung, Jagad cilik jenenge manungsa iki, Iya batinira iku, Yen jagad gedhe Hyang Manon,

Artinya :

Bila kau belum mengetahui, Arti bawana alit dan bawana ageng Bawana alit namanya manusia ini, Adalah batinmu, Dan bawana ageng adalah Hyang Manon.

(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)

Dalam baris tembang yang berbentuk Gambuh ini terlihat jelas dan lebih tegas diutarakan tentang arti bawana alit dan ageng, maka jelas pula langkah-langkah yang harus kita bawa untuk menelusuri samudra kehidupan ini. Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai ”Cipta Waskita” yang artinya kewaspadaan batin yang dapat mengetahui apapun yang bakal terjadi. Mengetahui benar dan salah, kharam dan batal serta mengetahui arti hukum dalam kehidupan dan sebagainya.

Setelah kita siap mendalami ilmu mistik terapan maka kesadaran pribadi telah tergugah, sampai memahami arti bawana alit dan bawana agung dan terasalah sesuatu yang bergejolak dalam batin kita. Suatu keharusan yang mendalam di dalam hati, hingga tergerakkan getaran-getaran rasa dari segala penjuru yang menggetarkan iman kita, tiada rasa maka berlinanglah air mata haru. Tergambarkan semua perbuatan yang pernah di lakukan, semua kejahatan dan nista yang diperbuat. ”Mengapa dahulu aku tidak mengetahuimya, kalau kebaikan ada dalam diriku sendiri?” begitulah batin kita akan bertanya.

Semua itu karena ulah si tukang mengadu domba yang menghalang-halangi semuanya itu. Maka setelah semuanya telah disingkirkan, terlihatlah semuanya dengan jelas. Itulah yang dinamakan ”kalau Hyang Manon (matahari)  telah membukanya, semua akan menjadi jelas”. Becik ketitik ala ketoro artinya yang baik akan terlihat adapun yang jelek akan terbukti.

Menjadi manusia berbudi luhur, rendah hati dan nasionalis adalah prinsip dasar orang Nusantara , begitu tingginya ajaran leluhur  Nusantara, nikmat mana lagi yang kamu dustakan ? Sehingga kamu berani menghina dan merendahkan ajaran leluhurmu bahkan berusaha mengganti budayamu dengan budaya asing .

Salam Kedaulatan Rakyat,

Rahayu!

Ki. Tito Gatsu 

KEBENARAN DALAM SPIRITUAL

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 8) 

MENCINTAI LELUHUR INDONESIA   MEMASUKI KEBENARAN HAKIKI DALAM SPIRITUAL JAMAN BARU 

□ HIDUP BUKAN UNTUK DONGENG DAN HALUSINASI 

Lihatlah ke dalam dan jalani hidup kita  di tepi dua dunia.  
Sebuah kenyataan di mana kita menemukan pemahaman sejati tentang siapa kita melalui pemikiran zaman baru, kehidupan zaman baru, dan spiritual zaman baru. 

Penciptaan Alam tidak ada yang bisa lagi mendefinisikan seperti kata kitab suci  karena bayangkan satu galaxy ada milyaran tata surya dan  didalam alam semesta ada milyaran galaxy. Masihkah kita percaya akan halusinasi kitab suci dengan sesuatu yang dikatakan iman? 

Ambil langkah ke tempat yang tidak diketahui  atau memang tidak ingin kita ketahui karena selama ini kita tidak mau berpikir untuk mencari kebenaran ! Apakah benar apa yangdilakukan dan tertulis dalam kitab suci yang sudah terbit ribuan tahun yang lalu itu sebuah kebenaran?
Apakah tidak perlu revisi?
Apakah Tuhan  tidak perduli dan tidak  memikirkan manusia  sebagai semua ciptaannya hingga  saling membunuh?. Apakah Tuhan pilih kasih hanya terhadap satu agama? 

□ TUHAN MAHA PENGASIH DAN SAMA SEKALI BUKAN PEMBENCI 

Tuhan Maha Pengasih dengan memberikan kita pengetahuan dan kemajuan teknologi sehingga kita tau semua agama yang ada dimuka bumi dan memiliki kitab suci semua bohong  dan kenyataannya memang membuat manusia saling membenci dan merasa benar dan itulah pertolongan Tuhan , akankah kita masih mau menutup mata dan pikiran ? Kemudian mengatakan imani saja ? Atau kita hujat apabila perlu kita bunuh orang yang membawa kebenaran dan berkata benar? Agar kita tetap hidup dalam halusinasi. 

Saat mereka menjelajahi dunia kebangkitan spiritual, kesadaran, semangat, dan kondisi manusia yang terselubung.  Bergabunglah dengan mereka dalam mewujudkan kesatuan semua.  

Berjalanlah di tepi tebing antara kenyataan yang terlihat dan yang tidak terlihat dengan pengalaman dan pencerahan spiritual.  Persiapkan diri Anda untuk evolusi spiritual dan dunia baru untuk dijelajahi.  Lebih banyak kekuatan dan kekuatan untuk Anda tinggalkanlah semua halusinasi  bohong dengan janji surga  karena diri kita tak mau menerima kenyataan 

□ SPIRITUAL KEJAWEN  ADALAH HAKEKAT KEBENARAN JAMAN BARU 

Seperti kita ketahui bahwa konsep Pancasila terdiri dari 5 sila , saya coba menggambarkan  yaitu : 

1. Religius
2. Humanity
3. Nasionalism
4..Democration
5. Socialism 

Ini adalah konsep brlian dari ajaran asli Nusantara yang menjadi  falsafah hidup ajaran kejawen. 

Konsep Pancasila merupakan terjemahan dari falsafah Memayu Hayuning Bawana  adalah konsep atau ajaran falsafah asli Nusantara yang mengajarkan  kehidupan untuk  menanamkan nasionalisme sejak dini 

Yang meliputi semua sila yang ada dalam Pancasila dan Bung Karno sendiri mengatakan dia adalah Penggali Pancasila bukan Pencipta Pancasila , kemudian Gusdur mengatakan bahwa Pancasila sudah ada sejak 7 abad lamanya. 

□ KONSEP SPACE CULTURE 

Nusantara  memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana atau space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya yang harus tertanam.pafa penduduk Nusantara sehingga individu di Indonesia harusnya memahami dan mengamalkan ajaran ini jika diamalkan betapa Indonesia diyakini akan menjadi negara  maju 

Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini Bawana  adalah dunia dengan isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi. 

Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Seperti tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. 

Orang yang hidupnya di jagad rame  jagad rame atau ladang kejawalen ini dianggap sebagai bumi Nusantara dimana bila kita menanamkan kebaikan disini kelak akan menuai hasilnya baik untuk diri sendiri atau penduduk Nusantara. 

□ LELUHUR ORANG INDONESIA  BERBUDI LUHUR 

Pada tataran ini, orang menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. 

Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup.
Dalam proses semacam itu, leluhur Nusantara  sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. 

Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.Suasana demikian oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana. 

□ KONSEP NASIONALISME PALING LOGIS 

Tidak pernah ada konsep pemahaman cinta tanah air yang paling logis di Indonesia  selain nasionalisme , Fasisme berdasarkan agama sudah hancur dan luluh lantak di Timur Tengah !! Dengan  gagasan ISIS juga Nazisme dan 

Dalam.Dunia Baru  ada  Hidup Baru, Spiritual baru dan jadilah diri sendiri yang sama sekali baru untuk dunia baru.
Itulah yang dinamakan Memayu Hayuning Bawana dan hanya nasionalisme , kebersamaan dalam bingkai negara kesatuan Indonesia diamankan kita semua bersaudara serta diri sendiri yang menjadi tujuan hidup dan kebahagiaan manusia Indonesia 

Salam Damai Dihati semua insan  Indonesia
Salam.kedaulatan Rakyat, 

Tito Gatsu .

SABDA LANGIT

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.7.) 

 AJARAN KEJAWEN SABDA LANGIT 

Saya hanya ingin menyampaikan betapa tingginya dan visionernya budaya asli Nusantara yang meliputi filosofi hidup dan menjadi perekam nasionalisme , oleh karenanya di Indoneaia bergaul lintas agama dan bersaudara bahkan perkawinan bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan , misalnya perkawinan orang islam dengan Kristen, orang Hindu dengan orang islam atau budha dan sebagainya,  karena orang Indonesia pada hakekatnya memahami ketuhanan secara hakikat dan berhubungan denganTuhan adalah masalah pribadi.

Dalam ajaran kejawen banyak memiliki ajaran yang menyangkut keheningan dan berusaha berinstrospeksi diri.  seperti meditasi dan yoga tapi banyak orang yang justru menggali dari budaya asing atau agama import.

Jika dalam ajaran Islam disebut tasawuf Sufisme atau tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.
Dan saya yakin bahwa budaya ini sudah melekat erat dibanyak masyarakat diseluruh Indonesia walaupun terus berusaha dipecah belah bahkan saya punya keyakinan falsafah nusantara ini akan kembali menjadi tuan rumah di negrinya sendiri. 

Memahami  Rahasia Filsafat kejawen 

Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya doktrin atau dogma dalam kalimah do’a serta tata  cara  baku  menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. 
Begitu pula dalam kejawen, karena bukanlah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud laku spiritual dalam tataran batiniahnya, dan laku ritual dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. 

Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan do’a. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar. 

Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya. 

Hal itu termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah meresap di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktek imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. 

Terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. 

Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi. 

Salam Persatuan dan Cinta Indonesia 

Tito Gatsu

MENEMUKAN KEBESARAN TUHAN

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.6.) 

DENGAN OLAH ROSO  MANUSIA AKAN MENEMUKAN KEBESARAN TUHAN  DENGAN LOGIKA YANG JELAS TANPA PERANTARA

Kejawen bukan agama yang perlu dihafalkan, tetapi agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses Olah Roso. Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan surga dan nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan. Dengan Olah Roso seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati tidak berangan-angan masuk ke surga, karena ia sudah menemukan kedamaian ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti agama rosul, yang menggunakan rosul sebagai perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Jadi dapat dipastikan pemeluk Kejawen , tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti. 

Cuci otak merupakan tindakan subyek mempengaruhi obyek dengan cara, membawa logika berfikir obyek ke pola pikir yang diingini oleh subyek. Prosesnya adalah: subyek dan obyek pertama-tama memiliki satu pijakan nara-sumber yang sama. Nara-sumber dapat berupa kitab suci, atau buku-buku yang diterjemahkan dengan merujuk pada kitab suci tersebut, dengan beberapa ayat-ayat yang meyakinkan. Bagi orang-orang yang berambisi untuk masuk surga, yang notabene belum ada bukti, bahwa orang yang meninggal dengan menyakiti dirinya sendiri, maupun orang lain, bisa masuk surga. 

Bagi seorang Kejawen, dimana perasaan surgawi dan kejamnya neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri. Mengapa perasaan surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan, yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yang mana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). 

Mengapa kejamnya neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Perasaan benar dan bersalah bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan kejamnya neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Gusti, untuk memohon tuntunanNya. 

Kalau perasaan surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang berbudi luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk surga. Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan nara-sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri. 

Dengan penjelasan tersebut di atas, jadi boleh dibilang seorang Kejawen Sejati tidak mungkin untuk dicuci otaknya dalam konteks hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan, seorang Kejawen Sejati sudah memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga orang lain tidak dapat mencampurinya atau mempengaruhinya, pola hubungan tersebut kepada janji-janji untuk masuk surga. 

Dosa merupakan hukuman kepada seseorang dari perbuatan buruknya kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Siapakah yang berhak untuk menilai itu dosa atau tidak? Jawabannya absolut, hanya Tuhan Yang Maha Esa. 

Ada pepatah, ketidaktahuan membuat orang lebih merasa nyaman dalam pikirannya, karena dosa seseorang, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya, semua orang tidak akan terusik pikirannya jika dirinya berbuat kejahatan, kalau memang ia lahir dan tumbuh dibesarkan di lingkungan yang jahat. 

Tetapi perlu diingat, sebagai keluarga normal, dari kecil kita selalu diajari oleh orang tua kita, untuk menjadi orang yang berbudi luhur. Dengan nilai-nilai, atau horma-norma yang baik, akan menumbuhkan cognitif, affektif dan motorik pikiran yang positif. Sehingga jika kita berbuat menyimpang dari norma yang diajarkan oleh orang tua kita, maka dalam pikiran kita timbul rasa bersalah. 

Sedangkan rasa berdosa adalah, perasaan yang selalu menghantui kita, karena perbuatan buruk kita sendiri kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Bagaimana seseorang dapat merasa berdosa? Hanya jika ia mengerti makna dari do’a yang diucapkan. 

Beruntunglah bagi anda yang berdo’a dengan bahasa yang anda sendiri tidak mengerti, karena anda tidak pernah merasa bersalah. Tetapi, semakin banyak orang yang seperti anda, maka semakin cepat pulalahh dunia ini akan hancur. 

Bagaimana seorang Kejawen melihat dosa? Dosa adalah perasaan yang timbul sebagai hasil dari perbuatan yang merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb) 

Bagaimana kita bisa merasa berdosa? Dalam Budi Jawi yang dipentingkan adalah Olah Roso, karena dari Olah Roso maka kita tahu apakah sebuah perbuatan itu benar atau salah. Untuk memudahkan, perasaan seseorang selalu dikembalikan kepada dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika kita memukul orang lain, bagaimana kalau kita dipukul oleh orang lain? Karena rasa sakit itu akan ada kesamaannya, jika kita yang dipukul. 

Apakah dosa dicatat oleh Gusti? Gusti tidak mencatat dosa kita. Yang mencatat adalah diri kita sendiri (Kalau dianalogikan saat ini, setiap manusia membawa Smart Chipsnya masing-masing). Semua berpulang pada keikhlasan kita masing-masing. Apakah kita dapat berbuat ikhlas dalam kondisi yang dibalik? Jawabannya ada pada Olah Roso. 

Apa itu Roso dalam Budi Jawi? Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri. 

Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb) 

Persamaan dan perbedaan Agami Kejawen dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. 

Bagi seorang Kejawen Sejati, yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Menghukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia.

Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya. 

Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb). Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini. 

Berderma atau bersedekah atau shodaqoh jariah tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan. 
Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma. 

Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa. 

Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara dalam kejawen  adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri,  antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya. 

Begitu luhur dan masuk akalnya ajaran leluhur dan budaya Nusantara sehingga masih terpelihara hingga hari ini sebagai perwkat kebangsaan dan mampu menjaga keberagaman 
Mari kita pertahankan semangat  budaya Nusantara dan kita dalami nilai- nilai luhur yang ada didalamya. 

Salam Persatuan dan Cinta Indoneaia 

Tito Gatsu.

AWAL PERADABAN DAN MAKRIFAT SUFI

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.5.) 

AJARAN KEJAWEN ADALAH AWAL PERADABAN DUNIA & MAKRIFAT SEORANG SUFI

Jika kita melihat agama apapun di dunia penuh dengan pertumpahan darah , seperti kisah Mahabharata di India, kisah Rennasance di Eropa yang melibatkan agama Kristen kisah kekhalifahan Abbasiyah , Ummayah dan Ottoman hingga saat ini dengan apa yang dilakukan ISIS dan Pilkada DKI 2017 yang melibatkan agama Islam, kenyataannya  kita tidak pernah melihat orang Kejawen melakukan kekerasan .

Sebelumnya sekali lagi saya sampaikan bahwa saya bukan ahli agama juga bukan menyebarkan ajaran atau  agama kejawen tapi saya sangat cinta Indonesia dengan leluhur  dan budaya Indonesia hanya ingin memberikan gambaran bahwa begitu tingginya ajaran dan budaya asli Nusantara ini yang sering dilecehkan oleh penganut  agama lain atau orang Indonesia sendiri padahal  menurut penelitian ilmiah beberapa ahli di dunia menemukan bahwa di Indonesia adalah tempat lahir peradaban dunia. 

Pada hakekatnya menurut beberapa penelitian ilmiah  Indonesia pernah menjadi negara besar yang pernah menaklukan Mesir hingga Yunani dan  mempunyai pengaruh diseluruh dunia. 

Kita abaikan  fiksi ilmiah, fakta sejarah  pada sekitar abad 13 saja Kerajaan Majapahit pada masa kepemimpinan Raden Wijaya  mampu  memenangkan peperangan dengan Mongol yang menguasai Tiongkok hingga Timur Tengah yang ketika itu dipimpin  Kubilai Khan dan  mendatangkan 20.000 pasukan dari daratan Tiongkok ke Indonesia  yang hanya menewaskan sebagian besar tentaranya bahkan generasi berikutnya Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada mampu mempersatukan Nusantara bahkan hingga semenanjung malaka dan Indocina. Itulah kejayaan nasionalisme Indonesia di masa lalu padahal ketika itu hampir semua agama sudah ada di Indonesia terbukti candi prambanan dan borobudur bisa berdiri dalam lokasi berdekatan tanpa gangguan dari pihak manapun. 

Sebelumnya saya menjelaskan terlebih dahulu apa yang dinamakan makrifat.
Makrifat adalah adalah ajaran islam yang melalalui proses penghayatan tentang Fiqih yang tinggi yang mensinkronisasi antara tauhid (keesaan Allah SWT dengan nalar dan logika) hingga merasakan kehadiran Allah dihadapan kita atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal, sedangkan dalam tasawuf makrifat berarti mengetahui Allah SWT dari dekat. Dengan Makrifat seorang Sufi lewat hati sanubarinya dapat melihat Tuhan 

Dalam  ajaran Kejawen kita benar benar dibawa dalam nalar dan logika yang jelas. Manusia harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan Gusti  atau Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan welas asih. Oleh karenanya menghormati leluhur itu penting dan menjaga persaudaraan antar manusia serta memberikan iklim.yang baik kepada lingkungan terutama keluarga. 

Pada ajaran agama impor , umumnya  mempercayai bahwa kesusahan atau penderitaan merupakan ujian dari Tuhan. Bagi ajaran kejawen , Gusti hanya memutuskan  2 (dua) hal absolut (yang disebut takdir), yakni kehidupan (lahir di bumi), dan kematian (meninggalkan bumi). Selain itu, Gusti memberikan kita pilihan. 

Pada saat kita dilahirkan, dapat dianalogikan kita berada di depan sejuta persimpangan jalan. Pada saat itu memang kita belum dapat memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Di sinilah peran orang tua kita yang memberikan warna samar-samar pada arah jalan hidup kita kemudian. 

Namun pada saatnya kita menginjak besar/puber, seyogyanya kita sudah mempuyai kapabilitas untuk menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Saat itulah, kita menentukan nasib kita sendiri. 

Dua pilihan besarnya adalah, apakah kita ingin menjadi orang baik atau orang jahat. Dari dua pilihan besar itu, kita pun masih harus memilah-milah deferensiasinya dalam menjalankan pilihan itu sendiri. Yang perlu diingat adalah, jika kita sedang dalam masa-masa sulit atau kesusahan, maka itu artinya kita sedang berada dalam jalan yang salah. Bukan ujian dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan kita mengatakan bahwa kesulitan itu adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Esa, maka tak ubahnya kita mengecilkan Tuhan kita sendiri. Hal ini yang banyak dilakukan oleh agama-agama import/pendatang. Menurut mereka Tuhan tak ubahnya seperti satpam, hal ini pulalah yang membuat bangsa kita selalu terpuruk dari eksistensi negara-negara lain. Ingatlah, Tuhan ada di atas segala-galanya. Ketika kita mengecilkanNya, maka alam dan seisinya yang akan mengecilkan kita. 

Mungkin banyak yang mempertanyakan tentang sangat berbedanya pola pikir ajaran kepercayaan  Lokal Nusantara ini, dengan agama-agama import lainnya. Hal ini dikarenakan, kejawen tumbuh di alam yang bersahabat, sehingga seorang Kejawen Sejati terbiasa melihat di luar dirinya adalah hal-hal yang baik. Jadi, justru dirinyalah yang harus menyesuaikan dengan kebaikan itu sendiri. Hal ini anda dapat memahaminya pada Empat Sila Utama Pola Hubungan. 

4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar diri : 

1. Hubungan Manusia dengan Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa)
2. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
3. Hubungan Manusia dengan Mahluk lain
4. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia 

Bagi seorang kejawen tidak Berdosa jika pindah agama.
Berdosa karena pindah agama, atau apapun sebutannya, banyak agama mengutuk umatnya yang keluar dari agamanya. Bagi seorang Kejawen Sejati yang berasal dari ajaran turun-temurun keluarganya, bersyukurlah dirinya, karena ia tidak perlu mengalami pindah-pindah agama. 

Tetapi, bagi seorang yang baru sadar akan keluhuran Agami Kejawen setelah dirinya dewasa, dan ingin kembali lagi sebagai seorang Kejawen Sejati. Percayalah, Gusti / Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah menghukumnya. Karena, ketika dirinya menganut agama rosul yang menempatkan dirinya tidak lagi sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, dimana hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa harus melalui Perantara untuk menyampaikan do’a atau pujian kepadaNya. 

Tidak sedikitpun Tuhan Yang Maha Esa menghukumnya, apalagi ketika ia sadar dan ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya, dan kembali ke keyakinan kejawen yang hakiki tersebut. Di lain pihak, mengakui dan meyakini bahwa kehidupan dirinya adalah pinjaman dari Gusti, yang pada awalnya dititipakan kepada orang tua mereka yang melahirkannya. 

Dalam ajaran kejawen tidak ada satu orang pun yang berhak untuk menghakimi seorang Kejawen, yang pindah ke agama lain. Karena Tuhan Yang Maha Esa memberikan kita hati dan pikiran, yang mana itu semua sudah diserahkannya sejak kita lahir di muka bumi. 

Dengan kepindahannya dari kejawen ke agama lain, ini berarti ia memilih pola hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana dirinya menempatkan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Apakah dirinya ingin memiliki hubungan yang langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa (tetap pada keyakinan Agama Jawi), atau dengan Perantara (pindah ke agama Rasul). 

Agama Rasul menempatkan Rasul sebagai Perantara komunikasi, antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, dalam sembahyang atau do’a mereka, mereka tidak lupa menyebutkan atau bahkan mendo’akan para Perantara mereka terlebih dahulu, sebelum memberikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, hal tersebut sebagai wujud eksistensi mereka, bahwa mereka ada di jalur Perantara yang mana. 

Mengapa Indonesia terpuruk menurut perspektif ajaran kejawen ? Karena manusia yang mayoritas menganut agama import tidak mengenal Kearifan Lokal seutuhnya. Sedangkan dalam Agami Jawi, hal tersebut sudah termasuk di dalamnya, bagaimana seorang Kejawen memperlakukan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). 

Dalam keyakinan alam bawah sadar orang-orang yang hidup di wilayah Indonesia, mempelakukan alam selayaknya kita memperlakukan orang lain (dalam konteks Agami Jawi). 
Kalau perlakuan terhadap pihak lain, kita lakukan dengan benar, maka masyarakat Indonesia tidaklah menderita seperti sekarang ini. 

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia

Tito Gatsu

MENGENAL KEJAWEN AJARAN ASLI NUSANTARA

bag 1.


FAKTA KEJAWEN ADALAH AGAMA YANG MENGENAL PERADABAN & PEMIKIRAN YANG TINGGI 

Luar biasa menarik ketika saya mendapatkan literasi mengenai Kejawen yang memang rata-rata berbahasa Inggris dan Belanda juga dari beberapa ahli yang saya kenal, hampir semua pemahamannya bisa diikuti oleh nalar dan sangat mudah dipelajari bahkan tak ada pengertian Holly Appocalipstic seperti yang dijumpai dalam agama impor , seperti cerita nabi berjumpa Tuhan yang akhirnya menjadi cerita yang dipercaya umatnya atau cerita mengenai dewa dan sebagainya ,  agama kejawen adalah monotheisme  yang mungkin sama dengan Zoroastrian  tapi bedanya jauh lebih logis tidak perlu ulama, pendeta atau wakil Tuhan dan bisa diyakini secara personal. 

Agami Jawi yang eksis pada tahun 4425 (44 abad sebelum Masehi) dimana seluruh Nusantara masih berpusat di Jawa sebagai Pusat Peradaban yang wilayahnya mencapai seluruh Nusantara termasuk Papua bagian barat disebelah Timur, di utara hingga semenanjung malaka dan Thailand  di selatan hingga pulau Timor. Dan  beberapa pulau masih menyatu, seperti Jawa , Sumatera dan Kalimantan  sebelum banyak terjadi bencana alam dan pergeseran pulau. 

Dalam konteks umum, Kejawen merupakan agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang ini, dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut Agami Jawi. Penganut Kejawen biasanya menganggap ajarannya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah perilaku orang yang beradap. Ajaran kejawen biasanya bertumpu pada konsep keseimbangan. Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. 

Manunggaling kawulo Gusti adalah ajaran Kejawen yang diaku oleh Islam dan Kristen padahal ajaran kejawen atau orang Nusantara lebih dahulu meyakininya 

Manunggaling kawulo gusti, berarti ketika manusia mampu menangkap ruh Tuhan/ ruhul kudus kedalam dirinya. 

Prinsip ini sudah ada pada diri Orang Indonesia jauh sebelum adanya agama Samawi atau paling sedikit 44 abad sebelum lahirnya Yesus Kristus atau Nabi.Isa. 

Bagi Kejawen Sejati, dengan Olah Roso dapat dipahami bahwa untuk berkomunikasi dengan Gusti, kita dapat menggunakan suara hati dan apapun bahasanya. Sebenarnya Agami Jawi (Kedjawen), tidak menjadi monopoli orang-orang Jawa semata. Kedjawen adalah agamanya orang-orang yang ingin dapat berbudi luhur, bahkan Agami Jawi ini dapat diterapkan di belahan dunia manapun. 

Teori Evolusi Bisa Diterima  Dalam Kejawen 

Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni: 

Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini. 

Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama Rasul. Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi. 

Kubu ketiga yang diyakini oleh Agami Jawi. Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga  tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya. 

Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini. 

Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa. 

Saya hanya ingin menyampaikan betapa tingginya budaya kita di masa lalu hingga menjadi induk agama lain didunia tapi kita sendiri melecehkannya dan dikikis terus selama berabad-abad, dengan kemajuan teknologi banyak yang bisa kita gali untuk membangkitkan kebudayaan negri sendiri yang ternyata tak kalah dengan negara lain .mungkin secara bertahap saya akan memposting sedikit demi sedikit agar lebih mudah dimengerti.

Saya sama sekali tidak bermaksud menyebarkan agama kejawen tapi hanya menggambarkan  sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa . 

Salam Persatuan dan Cinta Indonesia. NKRI 🇮🇩🇮🇩🇮🇩 HARGA MATI 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tito Gatsu.

Postingan Populer

Powered By Blogger