This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

AGAMA JAWA

MENGENAL AGAMA JAWA

.
Agama Jawa, berdasarkan disertasi Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum. yang sudah diuji dihadapan para penguji secara akademis, “Agama Jawa” itu ada, nyata, dan eksis berkesinambungan hingga sekarang. Asal dan keberadaannya jauh sebelum era Hindu-Buddha masuk ke Nusantara, yang artinya sangat jauh sekali sebelum era Islam masuk ke Nusantara.
.
Keaslian Jawa yang senantiasa dipertahankan, menyebabkan lahirnya istilah-istilah : Hindu Jawa, Islam Jawa, Cina Jawa, Buddha Jawa, dst nya. Itu sebenarnya adalah indikasi bahwa, di Jawa ini sudah ada pranata moralitas dan spiritual tersendiri (Agama Jawa), yang unik dan khas, namun seiring berjalannya waktu dimana pengaruh Agama-Agama dari luar Nusantara masuk kedalam Nusantara dan berbaur dengan rukun dan damai, terjadilah sinkretisme diantara keduanya. Dan berdasar penelitian memang demikian adanya, bahwa di Jawa ini jauh sebelum Hindu-Buddha dan Islam masuk, telah ada dan hidup secara nyata apa yang disebut sebagai “Agama Jawa” itu.
.
Hakikat pencarian “Urip” dalam Agama Jawa, adalah menemukan “Kayu Gung Susuhing Angin”. Manakala mampu menemukan “Kayu Gung Susuhing Angin” itu, kelak akan dengan mudah dan selamat menuju “Sangkan Paraning Dumadi”. Suasana batin akan semakin plong, bolong, dan suwung, pada saat fenomena ajaib itu dapat diraih.
.
Karakteristik agama selalu berpikir pada hal-hal ghaib. Fakta-fakta keagamaan Jawa, yang bergerak pada hal-hal Ghaib cukup banyak. Berbagai ritual di Gunung Lawu, Gunung Kemukus, Gunung Sambil, Gunung Kawi, dan lain-lain adalah contoh praktik keagamaan Jawa. Contoh ini mengindikasikan hadirnya kepercayaan religius orang Jawa.
Konteks kehidupan agama Jawa itu kompleks. Ada yang mengasumsikan, agama Jawa adalah Klenik. Kata klenik sendiri berasal dari kata “klenikan”, artinya berkomunikasi dengan berbisik-bisik. Klenik tersebut berupa kata-kata sakral dan mantra, untuk membangun aroma spiritualitas. Pembicaraan dalam ranah yang sepi, kondisi “Suket godhong ora kena krungu” , itulah ciri klenik. Yang dicari pergulatan klenik adalah inti spiritualitas Jawa.
.
Ekspresi Agama Jawa jelas bervariasi. Tidak ada aturan baku dalam menjalankan agama Jawa. Ekspresi itu sebuah fenomena, yang kadang-kadang sulit dijangkau oleh nalar sehat. Fenomena religius Jawa dapat dibagi menjadi dua kategori : 

(1). KEPERCAYAAN
(2). RITUS

_Agama Jawa Bukan Buddhisme_
.
Banyak yang beranggapan Agama Jawa adalah penyebutan atau nama lain dari Buddhisme yang berkembang di tanah Jawa. Tapi anggapan ini tidak benar. Bahwa pernah terjadi sinkretisme diantara keduanya di jaman dulu kala, itu memang benar. Tetapi Agama Jawa berbeda dengan Buddhisme.
.
Buddhisne menyatakan diri sebagai moralitas tanpa Tuhan dan atheisme tanpa hakikat. Memang dalam beberapa vihara Buddhisme, ada yang memandang Sang Buddha sebagai Tuhan, dia memiliki candi sendiri dan sebagai objek pemujaan, tapi cara membukanya sangat sederhana, yakni hanya dengan mempersembahkan sesaji berupa bunga-bunga dan memuja barang-barang sakral atau patung-patung sakral. Ini adalah sekedar bentuk pemujaan yang bersifat “mengingat”. Penuhanan Buddha ini hanya khas bagi apa yang dinamakan Buddhisme Utara. Sedangkan bagi Buddhisme Selatan memandang Sang Buddha adalah manusia yang memiliki kejutan luar biasa melebihi kekuatan manusia biasa.
.
Berbeda dengan Buddhisme tersebut, Agama Jawa, “tetap meyakini adanya Tuhan”, ialah IA yang “Tan Kena Kinaya Ngapa”. Agama Jawa selalu berkiblat pada Tuhan sebagai sumber pemancar hidup. Meskipun demikian, Agama Jawa juga bukanlah Islam bukan pula Hindu. Ketika dijabarkan dengan mendetail, asalkan kita objektif maka kita akan menemukan bahwa Agama Jawa bukanlah produk turunan dari Islam maupun Hindu.
.
“Teosofi” adalah paham yang dianut oleh agama Jawa. Theos berarti Tuhan dan Sofia berarti Cinta. Teosofi adalah ilmu Ketuhanan yang cinta Kebijaksanaan (kesempurnaan). “Ngudi kasampurnaning hurip nggayuh kamardhikan”.
.
Teosofi Jawa didasarkan pada paham “monistik” dan “panteistik”. Monistik adalah pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berada, memancar dalam diri manusia dan alam semesta. Sementara Panteistik artinya, seluruh alam semesta menyatu ke dalam Tuhan. Monistik dan Panteistik selalu berjalan seiring dalam Agama Jawa. Keduanya diyakini selalu ada, tidak dapat dipisahkan.
.
Pemujaan roh (spirit cults), merupakan perwujudan spiritualisme asli orang Jawa. Pemujaan dilakukan pada ruang yang dipandang sakral (wingit), misalkan di bawah pohon besar, di dekat mata air pegunungan, di makam leluhur, di sendang atau sungai yang pernah menjadi petilasan bertapa, dan sebagainya. Pemujaan roh dan benda-benda itu muncul, karena sebelum Hinduisme datang, orang Jawa telah hidup teratur dengan animisme-dinamisme sebagai akar religiusitasnya dan hukum adat sebagai pranata sosial mereka. Seperti misalnya, selamatan, kepatuhan terhadap numerologi kalender Jawa, dan keyakinan terhadap sedulur papat limo pancer (Sebuah konsep tua di Jawa tentang makhluk suci penjaga diri manusia). Akar Agama Jawa itu yang menyebabkan hadirnya ruang-ruang spiritual semakin bertambah.
.
Pada dasarnya, ruang spiritual yang sering dihadiri Penghayat guna mengaktualisasikan laku budi luhur dan budi pekerti, terbagi menjadi beberapa bentuk, yaitu : (1) Petilasan, (2) makam, (3) gunung, (4) air.
.
_Manembah Dan Nguja Rasa_

“Manembah” berasal dari kata “sembah” yang berarti menghormati dan memuja. “Manembah” sebenarnya sebuah upaya “nguja rasa”, artinya membebaskan rasa dari kungkungan raga. “Nguja Rasa” akan melahirkan kebebasan rasa, sehingga suasana semakin khusyuk dapat merasuk ke semak-semak spiritual. Menurut pemahaman Kejawen, maka manembah adalah menghormat dan memuja hanya kepada “TUHAN” (Ingsun). Jadi “tataning manembah” atau tata-cara menyembah adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan atau kelompok untuk berkomunikasi dengan “Ingsun”. Orang yang senantiasa Manembah, hidupnya akan tenang, tidak menginginkan hal-hal yang bukan jatahnya (ngangsa).
.
Biasanya Manembah ada yang diwujudkan dalam bentuk semedi, ritual, dan mantra. Manembah merupakan upaya pembersihan diri baik dari sisi jasmani atau badaniah maupun dari sisi rohani atau batiniah. Orang-orang Jawa selalu menyebut “Manembah mring Hyang Maha Agung” sebagai kewajiban luhur. Manembah dilakukan dalam bentuk pemujaan, berbakti, sembah, dan “manungku puja”.
.
“Manembah” merupakan jalan hidup agar orang Jawa benar-benar selamat menuju alam “Kasidan Jati”. Hakikat “Kasidan Jati” adalah suasana spiritualitas Jawa yang sangat amat misterius. Hidup di dunia yang dicari dan yang ingin diperoleh menurut orang Jawa antara lain adalah: “anggayuh kautamaning urip, rahayu slamet ana ing donya sak akherate kanggo pribadine dhewe lan kanggo sakkeluargane sakpiturune”.
.
Mengenai “Kasidan Jati” atau mati yang sebenar-benarnya, dalam hal ini bila seseorang telah memahami dan meyakini “Sangkan Paraning Dumadi” dan melaksanakan dengan benar dan baik tentang “Manunggaling Kawula lan Gusti”. Maka pada saat dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, akan menghadap pada Tuhan Yang Maha Esa, dengan “Kasidan Jati” yang sebenar-benarnya mati yang terpuji, kematian yang sejati.
.
Semua orang bisa mengalami “Kasidan Jati”, yaitu apabila selama hidupnya manusia tidak melanggar “tata paugeraning urip”, selalu “tepa selira” atau tidak memaksakan kehendak sendiri dan atau tidak suka memaksakan diri tetapi hidup apa adanya (sak madya), tidak mengumbar hawa nafsu angkara murka, bisa dan selalu mengendalikan diri, berani melakukan laku batin atau tirakat, kuat doanya, mau dan senang beramal, bisa hidup bersama dengan tetangganya yang berbeda-beda.
.
Demikianlah sekilas ulasan mengenai “Agama Jawa”, Agama tanpa Kitab tercetak dan tertulis. “Anane namung Kitab tanpa Tulis, Kitabe Alam Kasunyatan kang gumelar, Agama tanpa Nabi, Nabine yo dhiri sejatimu dewe.”

.
#Dikutip dari berbagai sumber
#Penghayat kepercayaan kepada TYME
#Rahayu sagung dumadi saindengin buana
#Rahayu Rahayu Rahayu  🙏🙏

ELING LAN BEKTI MARANG GUSTI

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag. 18) 

ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI 
TUHAN ADALAH KASIH SAYANG DAN MENCINTAI SESAMA ADALAH KENISCAYAAN 

Orang Nusantara selalu menganggap bahwa kehidupan yang diberikan kepada kita adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa dengan pola hubungan yang baik oleh karenanya selama berabad-abad Indonesia pada masa lalu mengalami kejayaan sebelum agama impor datang dan merobah budaya kita hal kecil yang bisa kita lihat adalah Pulau Bali walaupun pernah di bom dua kali oleh kaum intoleran tapi disana kultur masyarakatnya memang mencerminkan sikap ajaran Nusantara secara konsisten.Semoga suatu saat Indonesia kembali menghargai ajaran leluhurnya agar kembali berjaya.

ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI 

Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi: artinya, kita yang ingat, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Gusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Gusti Yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini. 

□ ROSO 

Apa itu Roso dalam kepercayaan leluhur Nusantara Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri. 

Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb) 

□ TUHAN YANG MAHA ESA DIATAS SEGALANYA 

Persamaan dan perbedaan Kepercayaan Nusantara  dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut kepercayaan nusantara Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. 

□ TUHAN TIDAK PERNAH MENGHUKUM 

Bagi seorang Kejawen Sejati atau Nusantara Sejati  yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mengukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia. 

Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia 
menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya. 

□ PUJIAN KEPADA TUHAN DIBARENGI MENGHORMATI SESAMA  DAN MAKHLUK YANG LAIN 

Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain atau sesama manusia  Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini. 

Berderma tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan. Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma. 

Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa. 

Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara Agama Jawi adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri,  antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya. 

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia

Tito Gatsu

Postingan Populer

Powered By Blogger