AWAL PERADABAN DAN MAKRIFAT SUFI

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.5.) 

AJARAN KEJAWEN ADALAH AWAL PERADABAN DUNIA & MAKRIFAT SEORANG SUFI

Jika kita melihat agama apapun di dunia penuh dengan pertumpahan darah , seperti kisah Mahabharata di India, kisah Rennasance di Eropa yang melibatkan agama Kristen kisah kekhalifahan Abbasiyah , Ummayah dan Ottoman hingga saat ini dengan apa yang dilakukan ISIS dan Pilkada DKI 2017 yang melibatkan agama Islam, kenyataannya  kita tidak pernah melihat orang Kejawen melakukan kekerasan .

Sebelumnya sekali lagi saya sampaikan bahwa saya bukan ahli agama juga bukan menyebarkan ajaran atau  agama kejawen tapi saya sangat cinta Indonesia dengan leluhur  dan budaya Indonesia hanya ingin memberikan gambaran bahwa begitu tingginya ajaran dan budaya asli Nusantara ini yang sering dilecehkan oleh penganut  agama lain atau orang Indonesia sendiri padahal  menurut penelitian ilmiah beberapa ahli di dunia menemukan bahwa di Indonesia adalah tempat lahir peradaban dunia. 

Pada hakekatnya menurut beberapa penelitian ilmiah  Indonesia pernah menjadi negara besar yang pernah menaklukan Mesir hingga Yunani dan  mempunyai pengaruh diseluruh dunia. 

Kita abaikan  fiksi ilmiah, fakta sejarah  pada sekitar abad 13 saja Kerajaan Majapahit pada masa kepemimpinan Raden Wijaya  mampu  memenangkan peperangan dengan Mongol yang menguasai Tiongkok hingga Timur Tengah yang ketika itu dipimpin  Kubilai Khan dan  mendatangkan 20.000 pasukan dari daratan Tiongkok ke Indonesia  yang hanya menewaskan sebagian besar tentaranya bahkan generasi berikutnya Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada mampu mempersatukan Nusantara bahkan hingga semenanjung malaka dan Indocina. Itulah kejayaan nasionalisme Indonesia di masa lalu padahal ketika itu hampir semua agama sudah ada di Indonesia terbukti candi prambanan dan borobudur bisa berdiri dalam lokasi berdekatan tanpa gangguan dari pihak manapun. 

Sebelumnya saya menjelaskan terlebih dahulu apa yang dinamakan makrifat.
Makrifat adalah adalah ajaran islam yang melalalui proses penghayatan tentang Fiqih yang tinggi yang mensinkronisasi antara tauhid (keesaan Allah SWT dengan nalar dan logika) hingga merasakan kehadiran Allah dihadapan kita atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal, sedangkan dalam tasawuf makrifat berarti mengetahui Allah SWT dari dekat. Dengan Makrifat seorang Sufi lewat hati sanubarinya dapat melihat Tuhan 

Dalam  ajaran Kejawen kita benar benar dibawa dalam nalar dan logika yang jelas. Manusia harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan Gusti  atau Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan welas asih. Oleh karenanya menghormati leluhur itu penting dan menjaga persaudaraan antar manusia serta memberikan iklim.yang baik kepada lingkungan terutama keluarga. 

Pada ajaran agama impor , umumnya  mempercayai bahwa kesusahan atau penderitaan merupakan ujian dari Tuhan. Bagi ajaran kejawen , Gusti hanya memutuskan  2 (dua) hal absolut (yang disebut takdir), yakni kehidupan (lahir di bumi), dan kematian (meninggalkan bumi). Selain itu, Gusti memberikan kita pilihan. 

Pada saat kita dilahirkan, dapat dianalogikan kita berada di depan sejuta persimpangan jalan. Pada saat itu memang kita belum dapat memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Di sinilah peran orang tua kita yang memberikan warna samar-samar pada arah jalan hidup kita kemudian. 

Namun pada saatnya kita menginjak besar/puber, seyogyanya kita sudah mempuyai kapabilitas untuk menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Saat itulah, kita menentukan nasib kita sendiri. 

Dua pilihan besarnya adalah, apakah kita ingin menjadi orang baik atau orang jahat. Dari dua pilihan besar itu, kita pun masih harus memilah-milah deferensiasinya dalam menjalankan pilihan itu sendiri. Yang perlu diingat adalah, jika kita sedang dalam masa-masa sulit atau kesusahan, maka itu artinya kita sedang berada dalam jalan yang salah. Bukan ujian dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan kita mengatakan bahwa kesulitan itu adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Esa, maka tak ubahnya kita mengecilkan Tuhan kita sendiri. Hal ini yang banyak dilakukan oleh agama-agama import/pendatang. Menurut mereka Tuhan tak ubahnya seperti satpam, hal ini pulalah yang membuat bangsa kita selalu terpuruk dari eksistensi negara-negara lain. Ingatlah, Tuhan ada di atas segala-galanya. Ketika kita mengecilkanNya, maka alam dan seisinya yang akan mengecilkan kita. 

Mungkin banyak yang mempertanyakan tentang sangat berbedanya pola pikir ajaran kepercayaan  Lokal Nusantara ini, dengan agama-agama import lainnya. Hal ini dikarenakan, kejawen tumbuh di alam yang bersahabat, sehingga seorang Kejawen Sejati terbiasa melihat di luar dirinya adalah hal-hal yang baik. Jadi, justru dirinyalah yang harus menyesuaikan dengan kebaikan itu sendiri. Hal ini anda dapat memahaminya pada Empat Sila Utama Pola Hubungan. 

4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar diri : 

1. Hubungan Manusia dengan Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa)
2. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
3. Hubungan Manusia dengan Mahluk lain
4. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia 

Bagi seorang kejawen tidak Berdosa jika pindah agama.
Berdosa karena pindah agama, atau apapun sebutannya, banyak agama mengutuk umatnya yang keluar dari agamanya. Bagi seorang Kejawen Sejati yang berasal dari ajaran turun-temurun keluarganya, bersyukurlah dirinya, karena ia tidak perlu mengalami pindah-pindah agama. 

Tetapi, bagi seorang yang baru sadar akan keluhuran Agami Kejawen setelah dirinya dewasa, dan ingin kembali lagi sebagai seorang Kejawen Sejati. Percayalah, Gusti / Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah menghukumnya. Karena, ketika dirinya menganut agama rosul yang menempatkan dirinya tidak lagi sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, dimana hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa harus melalui Perantara untuk menyampaikan do’a atau pujian kepadaNya. 

Tidak sedikitpun Tuhan Yang Maha Esa menghukumnya, apalagi ketika ia sadar dan ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya, dan kembali ke keyakinan kejawen yang hakiki tersebut. Di lain pihak, mengakui dan meyakini bahwa kehidupan dirinya adalah pinjaman dari Gusti, yang pada awalnya dititipakan kepada orang tua mereka yang melahirkannya. 

Dalam ajaran kejawen tidak ada satu orang pun yang berhak untuk menghakimi seorang Kejawen, yang pindah ke agama lain. Karena Tuhan Yang Maha Esa memberikan kita hati dan pikiran, yang mana itu semua sudah diserahkannya sejak kita lahir di muka bumi. 

Dengan kepindahannya dari kejawen ke agama lain, ini berarti ia memilih pola hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana dirinya menempatkan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Apakah dirinya ingin memiliki hubungan yang langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa (tetap pada keyakinan Agama Jawi), atau dengan Perantara (pindah ke agama Rasul). 

Agama Rasul menempatkan Rasul sebagai Perantara komunikasi, antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, dalam sembahyang atau do’a mereka, mereka tidak lupa menyebutkan atau bahkan mendo’akan para Perantara mereka terlebih dahulu, sebelum memberikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, hal tersebut sebagai wujud eksistensi mereka, bahwa mereka ada di jalur Perantara yang mana. 

Mengapa Indonesia terpuruk menurut perspektif ajaran kejawen ? Karena manusia yang mayoritas menganut agama import tidak mengenal Kearifan Lokal seutuhnya. Sedangkan dalam Agami Jawi, hal tersebut sudah termasuk di dalamnya, bagaimana seorang Kejawen memperlakukan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). 

Dalam keyakinan alam bawah sadar orang-orang yang hidup di wilayah Indonesia, mempelakukan alam selayaknya kita memperlakukan orang lain (dalam konteks Agami Jawi). 
Kalau perlakuan terhadap pihak lain, kita lakukan dengan benar, maka masyarakat Indonesia tidaklah menderita seperti sekarang ini. 

Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia

Tito Gatsu

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Postingan Populer

Powered By Blogger