SASTRAJENDRA
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 17)
SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU
KRITERIA SEORANG PEMIMPIN MENURUT AJARAN NUSANTARA
Dalam Filosofi Leluhur Nusantara Bisa Meramalkan Tokoh Yang Membawa Ke Zaman Keemasan
Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur sehingga dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :
1.Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/ menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.
2. Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.
3.Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).
4.Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.
5. Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.
6.Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, ke arah kesempurnaan hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula “Benih seluruh semesta alam.”
7. Laku, artinya perbuatan manusia itu sendiri sebagai pembuktian rahasia alam semesta ini di mana segala rasa ada di dalamnya. Oleh karena itu isi alam ini sesungguhnya yang tidak dapat dipungkiri, tidak ada keabadian, tidak ada kedamaian yang kekal, dan selalu berpasang-pasangan antara gelap dan terang, yang jahat dan yang baik, dan tanpa adanya kejahatan maka kebaikan itu sendiri tidak ada, begitu pula sebaliknya. maka yang menjadi tujuan kesempurnaan hidup itu adalah adanya keseimbangan di dalam hidup dan kehidupan.
Oleh karena itu, semakin jelas bahwa fungsi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai kunci untuk dapat memahami isi rasa jati, di mana untuk mencapai sesuatu yang luhur itu diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasa jati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, ke arah yang baik maupun yang buruk atau jahat.
Nafsu sifat itu ialah; Luwamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya tatanan alam semesta dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak sesuai dengan tatanan.
Semoga apa yang tertulis diatas bisa membangkitkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme terutama untuk generasi muda dan milenial dengan kembali mencintai budaya Nusantara , dan bagaimana memilih kriteria pemimpin yang sesuai dengan amanat ajaran luhur bangsa.
Salam Persatuan dan Cinta Indonesia.
Tito Gatsu
OJO DUMEH
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 16)
OJO DUMEH : KERENDAHAN HATI ADALAH KUNCI KEBERHASILAN HIDUP
Ojo Dumeh adalah filosofi Orang Nusantara yang melekat dalam diri orang Indonesia untuk mengendalikan diri dan nafsu karena merasa hebat jadi ukuran keberhasilan orang Nusantara adalah tetap rendah hati karena hanya kerendahan hati lah yang bisa membawa manusia berhasil dalam menjalani kehidupan .
Ojo Dumeh dalam bahasa Indonesia sehari-hari artinya ‘jangan mentang-mentang’. Ojo dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya). Ojo dumeh kuwasa (jangan mentang-mentan berkuasa). Ojo dumeh pinter dan sebagainya.
Dalam budaya Jawa memang banyak diutarakan dalam bentuk larangan dari pada anjuran. Ojo turu sore-sore (jangan tidur sore) yang maksudkan agar orang selalu tirakat di malam hari. Ojo laku ngiwo (jangan berjalan ke kiri) maksudnya jangan berlaku atau berbuat yang tidak baik*
Kalau ada nasihat yang diawali dengan kata ‘ojo’ maka kita harus mencari makna afirmatif (anjuran) yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan nasihat ‘ojo dumeh’ yang akan kita bahas kali ini.
‘Ojo dumeh’ atau jangan mentang-mentang tidak sekedar menganjurkan ‘orang yang lebih’ untuk tidak pamer kelebihannya kepada ‘orang yang kurang’. Orang juga sering mengartikan‘ojo dumeh’ dengan anjuran untuk berlaku sopan atau hormat kepada yang kurang dari dia agar orang tidak tersinggung.
Arti ‘ojo dumeh’ lebih dari sekedar ajuran berperilaku hormat. ‘Ojo dumeh” menganjurkan agar orang peduli kepada orang lain. Kalau kita mempunyai kelebihan, misanya kekayaan, kekuasaan dan ilmu, maka gunakanlah itu untuk membantu orang.
Sikap ‘ojo dumeh’ didasarkan pada kenyataan bahwa jalannya kehidupan itu bagaikan roda yang berputar. Setiap titik pada roda akan mengalami perubahan posisi, dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Pada waktu kehidupan kita di atas, jangan lupa bahwa pada saatnya nanti akan berputar dan berada di bawah. Dengan demikian, nasihat ‘ojo dumeh’ juga memberi makna agar orang tidak lupa hari esok. Ojo dumeh kaya lalu boros, tidak menabung untuk hari esok. Ojo dumeh berkuasa lalu tidak ingat hari pensiun yang tanpa kekuasaan.
Kata yang sebenarnya pendek tetapi mempunyai arti yang begitu luas. Bagi orang jawa kata tersebut mengandung filosofi yang tinggi untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ojo Dumeh mengandung arti bahwa kita (manusia) janganlah selalu membangga-banggakan apa yang telah dimiliki baik berupa ketenaran, harta benda, pangkat / jabatan, kecantikan, ketampanan, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan contoh.
Semua itu tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa yang suatu saat pasti akan dimintanNya kembali. Ojo dumeh sugih (Jangan mentang mentang kaya), Ojo dumeh ganteng /ayu (Jangan mentang mentang ganteng/cantik), Ojo dumeh duwe pangkat terus sewenang-wenang (Jangan mentang mentang punya jabatan terus sewenang-wenang) dan masih banyak lagi ungkapan ojo dumeh yang dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan ikuti budaya asing terutama Arab yang membuat diri merasa benar tetap rendah hati dan cintai budaya serta ajaran leluhur Indonesia yang begitu mulia
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu
FAKTA KEJAWEN
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara
FAKTA KEJAWEN ADALAH AGAMA YANG MENGENAL PERADABAN & PEMIKIRAN YANG TINGGI
Luar biasa menarik ketika saya mendapatkan literasi mengenai Kejawen yang memang rata-rata berbahasa Inggris dan Belanda juga dari beberapa ahli yang saya kenal, hampir semua pemahamannya bisa diikuti oleh nalar dan sangat mudah dipelajari bahkan tak ada pengertian Holly Appocalipstic seperti yang dijumpai dalam agama impor , seperti cerita nabi berjumpa Tuhan yang akhirnya menjadi cerita yang dipercaya umatnya atau cerita mengenai dewa dan sebagainya , agama kejawen adalah monotheisme yang mungkin sama dengan Zoroastrian tapi bedanya jauh lebih logis tidak perlu ulama, pendeta atau wakil Tuhan dan bisa diyakini secara personal.
Agami Jawi yang eksis pada tahun 4425 (44 abad sebelum Masehi) dimana seluruh Nusantara masih berpusat di Jawa sebagai Pusat Peradaban yang wilayahnya mencapai seluruh Nusantara termasuk Papua bagian barat disebelah Timur, di utara hingga semenanjung malaka dan Thailand di selatan hingga pulau Timor. Dan beberapa pulau masih menyatu, seperti Jawa , Sumatera dan Kalimantan sebelum banyak terjadi bencana alam dan pergeseran pulau.
Dalam konteks umum, Kejawen merupakan agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang ini, dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut Agami Jawi. Penganut Kejawen biasanya menganggap ajarannya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah perilaku orang yang beradap. Ajaran kejawen biasanya bertumpu pada konsep keseimbangan. Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya.
Manunggaling kawulo Gusti adalah ajaran Kejawen yang diaku oleh Islam dan Kristen padahal ajaran kejawen atau orang Nusantara lebih dahulu meyakininya
Manunggaling kawulo gusti, berarti ketika manusia mampu menangkap ruh Tuhan/ ruhul kudus kedalam dirinya.
Prinsip ini sudah ada pada diri Orang Indonesia jauh sebelum adanya agama Samawi atau paling sedikit 44 abad sebelum lahirnya Yesus Kristus atau Nabi.Isa.
Bagi Kejawen Sejati, dengan Olah Roso dapat dipahami bahwa untuk berkomunikasi dengan Gusti, kita dapat menggunakan suara hati dan apapun bahasanya. Sebenarnya Agami Jawi (Kedjawen), tidak menjadi monopoli orang-orang Jawa semata. Kedjawen adalah agamanya orang-orang yang ingin dapat berbudi luhur, bahkan Agami Jawi ini dapat diterapkan di belahan dunia manapun.
Teori Evolusi Bisa Diterima Dalam Kejawen
Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni:
Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.
Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama Rasul. Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi.
Kubu ketiga yang diyakini oleh Agami Jawi. Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya.
Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini.
Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Saya hanya ingin menyampaikan betapa tingginya budaya kita di masa lalu hingga menjadi induk agama lain didunia tapi kita sendiri melecehkannya dan dikikis terus selama berabad-abad, dengan kemajuan teknologi banyak yang bisa kita gali untuk membangkitkan kebudayaan negri sendiri yang ternyata tak kalah dengan negara lain .mungkin secara bertahap saya akan memposting sedikit demi sedikit agar lebih mudah dimengerti.
Saya sama sekali tidak bermaksud menyebarkan agama kejawen tapi hanya menggambarkan sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa .
Salam Persatuan dan Cinta Indoneaia.
Tito Gatsu.
Postingan Populer
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.2) KEJAWEN ADALAH BUDAYA NUSANTARA YANG TINGGI YANG MAMPU BERASIMILASI DENGAN SEMUA AGAMA...
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag.5.) AJARAN KEJAWEN ADALAH AWAL PERADABAN DUNIA & MAKRIFAT SEORANG SUFI Jika kita mel...
-
Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara FAKTA KEJAWEN ADALAH AGAMA YANG MENGENAL PERADABAN & PEMIKIRAN YANG TINGGI Luar biasa me...
-
MENGENAL AGAMA JAWA . Agama Jawa, berdasarkan disertasi Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum. yang sudah diuji dihadapan para penguji secara...





