Mengenal Ajaran Kejawen Agama Asli Nusantara (Bag. 18)
ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI
TUHAN ADALAH KASIH SAYANG DAN MENCINTAI SESAMA ADALAH KENISCAYAAN
Orang Nusantara selalu menganggap bahwa kehidupan yang diberikan kepada kita adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa dengan pola hubungan yang baik oleh karenanya selama berabad-abad Indonesia pada masa lalu mengalami kejayaan sebelum agama impor datang dan merobah budaya kita hal kecil yang bisa kita lihat adalah Pulau Bali walaupun pernah di bom dua kali oleh kaum intoleran tapi disana kultur masyarakatnya memang mencerminkan sikap ajaran Nusantara secara konsisten.Semoga suatu saat Indonesia kembali menghargai ajaran leluhurnya agar kembali berjaya.
ELING LAN BEKTI MARANG GHUSTI KANG MUBENG DUMADI
Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi: artinya, kita yang ingat, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Gusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Gusti Yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.
□ ROSO
Apa itu Roso dalam kepercayaan leluhur Nusantara Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri.
Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)
□ TUHAN YANG MAHA ESA DIATAS SEGALANYA
Persamaan dan perbedaan Kepercayaan Nusantara dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut kepercayaan nusantara Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya.
□ TUHAN TIDAK PERNAH MENGHUKUM
Bagi seorang Kejawen Sejati atau Nusantara Sejati yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mengukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia.
Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia
menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya.
□ PUJIAN KEPADA TUHAN DIBARENGI MENGHORMATI SESAMA DAN MAKHLUK YANG LAIN
Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain atau sesama manusia Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini.
Berderma tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan. Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma.
Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa.
Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara Agama Jawi adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri, antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya.
Salam Damai Persatuan dan Cinta Indonesia
Tito Gatsu

0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.