This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

SINKRETISME KEJAWEN

Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.2)

KEJAWEN ADALAH BUDAYA NUSANTARA YANG TINGGI YANG MAMPU BERASIMILASI DENGAN SEMUA AGAMA IMPOR 

Sebenarnya betapa maju dan visionernya agama asli Indonesia yang dianut sejak dulu , ada banyak aliran kejawen yang tersebar diaeluruh nusantara karena pada jaman dahulu pulau jawa dikenal sebagai pusat peradaban di Nusantara  yang secara maknapun hampir sama Kejawen atau Sunda wiwitan misalnya atau beberapa istilah nama yang berbeda di luar Jawa seperti Ugamo Malim agama suku batak  di Sumatera Utara , Kaharingan agama suku dayak di Kalimantan atau Marapu agama asli suku Sumba di Nusa Tenggara , dll.  Semuanya masih terpelihara hingga hari ini dan berasimilasi dengan agama import baik Hindu, Budha maupun agama samawi , seperti Kristen, Katholik dan Islam. 

Karena agama budaya di Indoneaia ini sejak dulu adalah monotheisme atau mengakui keesaan Tuhan dan tidak bertentangan dengan agama import justru jika kita pelajari kita akan menemukan makna yang lebih tinggi bagi pemahaman agama kita sendiri. 

Kejawen adalah sebuah pandangan hidup yang terutama dianut di Pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa dan menyebar keseluruh nusantara dengan istilah dan nama yang berbeda. Kejawen merupakan kumpulan pandangan hidup dan filsafat sepanjang peradaban orang Jawa yang menjadi pengetahuan kolektif bersama, hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskan pada ajaran agama yang dianut oleh Filsuf Jawa 

Simbol religius Hyang dalam Aksara Jawa dengan menggunakan cakrabindu artinya simbol yang disucikan. 

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan: Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya: Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut: 

• Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi) 

• Mamayu Hayuning Kulawarga (sebagai rahmat bagi keluarga) 

• Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia) 

• Mamayu Hayuning Bhawana (sebagai rahmat bagi alam semesta) 

Berbeda dengan kaum islam KTP , kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jati dirinya sebagai orang pribumi. Jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti: Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agama yang dianut jika dalam.islam tidak bertentangan dengan ajaran islam jika merujuk kepada akhlaqul kharimah. 

Sultan Agung Mataram dianggap sebagai filsuf peletak fondasi Kejawen Muslim yang kemudian sangat mempengaruhi upacara-upacara penting terutama yang paling tampak adalah penanggalan dalam menentukan hari-hari penting. Hari-hari penting kejawen tidak lepas dari "Kelahiran – Pernikahan – Mangkat" (kematian), yang ketiganya adalah kehidupan dalam tradisi Jawa. Orang Jawa akan mendapatkan nama pada ketiga peristiwa tersebut, yaitu nama saat kelahiran, nama saat pernikahan, nama saat mangkat (nama kematian dengan menambahkan "bin"/"binti" nama orang tua di belakang nama kelahiran). Semua hari-hari penting itu ditetapkan sesuai kalender Jawa yang memiliki Primbon sebagai aturan-aturan dalam menentukan hari penting dan tata caranya. Berikut adalah hari-hari penting dalam Kejawen: 

• Suran (Tahun Baru 1 Sura). 

• Sepasaran (upacara kelahiran) dan akikah bagi muslim. 

• Mantenan (pernikahan dengan segala upacaranya). 

• Mangkat (upacara kematian) – Mengirim doa (kenduri, wirid, ngaji) 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, 3000 hari. 

• Megeng Pasa – Tanggal 28 dan 29 bulan Ruwah (bulan Arwah), digunakan untuk mengirim doa kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi. 

• Megeng Sawal – Tanggal 29 dan 30 bulan Pasa, digunakan untuk mengirim doa kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi bagi yang tidak ada kesempatan pada Megeng Pasa. 

• Riadi Kupat (Hari Raya Kupat) – Tanggal 3, 4 dan 5 bulan Sawal (bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya sebelum menikah). 

Karena filsafat kejawen juga beragama, hari besar agama juga merupakan hari penting kejawen. Berikut ini adalah beberapa hari penting tambahan untuk kejawen muslim: 

• Hari Raya Idulfitri. 

• Hari Raya Iduladha. 

• Hari Raya Jumat. 

• Muludan (Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, S.A.W.). 

• Sekaten (Syahadatain). 

Para penganut kejawen sangat menyukai berpuasa dalam ajaran Islam karena dianggap sama dengan ajaran leluhurnya selain juga tafakur yang dianggap sama dengan bertapa. 

• Pasa Weton – Puasa pada hari kelahiranya sesuai penanggalan Jawa. 

• Pasa Sekeman – Puasa pada hari Senin dan Kamis. 

• Pasa Wulan – Puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan kalender Jawa. 

• Pasa Dawud – Puasa selang-seling, sehari puasa sehari tidak. 

• Pasa Ruwah – Puasa pada hari-hari bulan Ruwah (bulan Arwah). 

• Pasa Sawal – Puasa enam hari pada bulan Sawal kecuali tanggal 1 Sawal. 

• Pasa Apit Kayu – Puasa 10 hari pertama pada bulan ke-12 kalender Jawa. 

• Pasa Sura – Puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Sura. 

Selain puasa di atas kejawen juga memiliki puasa biasanya untuk menggambarkan kezuhudan (kesungguhan) dalam mencapai keinginan, jenis puasa tersebut adalah sebagai berikut: 

• Pasa Mutih – Puasa ini dilakukan dengan jalan hanya boleh makan nasi putih, tanpa garam dan lauk pauk atau makanan kecil dan lain-lain, serta minumnya juga air putih. 

• Pasa Patigeni – Puasa tidak boleh makan, minum, dan tidur serta hanya boleh di kamar saja tanpa disinari cahaya lampu. 

• Pasa Ngebleng – Puasa tidak boleh makan dan minum, tidak boleh keluar kamar, boleh sekadar keluar tetapi sekadar buang hajat dan boleh tidur tetapi sebentar saja. 

• Pasa Ngalong – Puasa tidak makan dan minum tetapi boleh tidur sebentar saja dan boleh pergi. 

• Pasa Ngrowot – Puasa yang tidak boleh makan nasi dan hanya boleh makan buah-buahan atau sayur-sayuran saja. 

• Pasa Wungon - Puasa yang tidak boleh makan dan minum, duduk bersila, kedua tangan diletakkan di atas lutut sambil berkonsentrasi apa yang diinginkan. 

• Pasa Tapa Jejeg - Puasa yang tidak boleh makan dan minum, serta harus berdiri minimal 12 jam lamanya. 

• Pasa Ngelowong - Puasa yang tidak boleh makan dan minum dalam waktu yang ditentukan sendiri, misalnya 3 jam atau 6 jam. 

Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran Kejawen tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat), kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) untuk membentuk orang Jawa yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji), hal-hal tersebut terutama banyak tertuang dalam jenis karya tulis sebagai berikut: 

• Kakawin (Sastra Kawi) – Kitab sastra metrum kuno (lama) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang berjumlah 5 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno 

• Macapat (Sastra Carakan) – Kitab sastra metrum anyar (baru) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang terdiri lebih dari 82 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon 

• Babad (Sejarah) – Kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno serta aksara Jawa dan bahasa Jawa 

• Suluk (Jalan Spiritual) – Kitab tata cara menempuh jalan supranatural untuk membentuk pribadi hanjawani yang luhur dan dipercaya siapa saja yang mengalami kesempurnaan akan memperoleh kekuatan supranatural yang berjumlah lebih dari 35 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon. Suluk juga merupakan jenis sastra yang ditembangkan. 

• Kidung (Doa-doa) – Sekumpulan doa-doa atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya doa lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa 

• Piwulang (Pengajaran) – Secara bahasa berarti "yang diulang-ulang" berupa kitab yang mengajarkan tatanan terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa 

• Primbon (Himpunan) – Secara bahasa berarti "induk", "kumpulan", atau "rangkuman" berupa kitab praktik praktis dalam pelaksanaan tatanan adat sepanjang waktu, juga biasanya dilengkapi cara untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa 

Naskah-naskah di atas mencakup seluruh sendi kehidupan orang Jawa dari kelahiran sampai kematian, dari resep makanan kuno sampai asmaragama (kamasutra), dan ada ribuan naskah lainya yang menyiratkan kitab-kitab utama di atas dalam bentuk karya tulis, biasanya dalam bentuk ajaran nasihat, falsafah, kaweruh (pengetahuan), dan sebagainya. 

Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu. Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktikkan ajaran agama (lain) tertentu. 

Beberapa aliran dengan anggota besar: 

• Budi Dharma 

• Kawruh Begia 

• Maneges 

• Padepokan Cakrakembang 

• Pangestu 

• Sumarah 

Aliran yang bersifat reaktif misalnya aliran yang mengikuti ajaran Sabdopalon yang ingin mengembalikan agama orang Jawa kembali ke Agama Budi yang dianggap sebagai agama asli menurut Sabdapalon, atau penghayat ajaran Syekh Siti Jenar yang dianggap sesat oleh wali songo karena bersifat terlalu individual sehingga tidak efektif untuk islamisasi. 

Jadi sejak dahulu budaya masyarakat Indonesia adalah kaum yang visioner, toleran dan mampu memandang agama beriringan dengan budaya serta mengutamakan kemanusiaan daripada hal yang lain, mari kita selalu jaga harga diri bangsa . 

Salam Kedaulatan Rakyat. 

Tito Gatsu.

KEJAWEN GAMBARAN BUDAYA DAN AGAMA YANG TINGGI

 Mengenal Ajaran Kejawen  Agama Asli Nusantara (Bag.3.)


AJARAN KEJAWEN MENGGAMBARKAN TINGGINYA BUDAYA & AGAMA ASLI NUSANTARA DENGAN MEMAHAMI  MANUNGGALING KAWULO GUSTI 


Sebelumnya untuk menghindari kontroversi dari paparan ini saya jelaskan terlebih dahulu,  bahwa saya bukan siapa-siapa, bukan ilmuwan apalagi ahli agama , saya hanya seorang yang bangga dengan budaya Indonesia jadi jika banyak kekurangan dari tulisan ini saya terlebih dahulu mohon maaf yang sebesar-besarnya bahkan mungkin perlu pencerahan lebih jauh dan saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan agama atau keyakinan apapun. Sekali lagi saya hanya bangga dengan tanah air dan leluhur saya Indonesia dan semoga bisa membuka wawasan tentang tingginya budaya Nusantara. 


Kejawen adalah ajaran  yang benar-benar mempercayai dan meyakini kebesaran Gusti atau Tuhan dan dalam istilah islam dinamakan Tauhid , jadi seorang kejawen walaupun dia memeluk agama lain jika prinsip dasarnya mengikuti ajaran kejawen dia akan tetap mengesakan  Tuhan, oleh karenanya dalam prinsip Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa sebenarnya juga prinsip kejawen. 


Bayangkan menurut penelitian antropologi agama ini sudah tumbuh sejak 4442 SM dan bahkan jauh sebelumnya Nusantara dan agama ini sudah menjadi pusat peradaban dunia yang berulangkali hancur oleh bencana alam karena ada pada  lokasi yang banyak gunung berapi seperti yang digambarkan dalam buku ilmiah Atlantis The Lost Continent Finally Found karya Prof. Arsyo Santos , banyak referensi secara geologist yang saya kurang faham menterjemahkannya tapi kita bisa menelusuri lebih detail dari sejarah budaya berdasarkan referensi Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. 


Sebenarnya tidak ada yang namanya Kejawen Hindu, Kejawen Budha, Kejawen Islam ataupun Kejawen Kristen. Nilai-nilai Agami Jawi memang sudah digeser oleh agama-agama pendatang. Agami Jawi adalah agama yang sudah tumbuh berkembang, jauh sebelum agama-agama import itu datang ke Indonesia. 


Orang Jawa yang terkenal dengan sifatnya yang senkretis, sehingga hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang pembawa agama import tersebut, agar nilai-nilai mereka dapat diterima oleh Agama asli nusantara ini , maka mereka mencoba untuk mengawinkan agama mereka dengan Agami Jawi yang sudah tumbuh jauh lebih lama dari agama mereka.dan memiliki nilai yang lebih beradab , sehingga orang orang kejawen pada masa itu tidak begitu bermasalah dengan perkawinan agama itu karena prinsip ketuhanan sebenarnya ada dalam diri mereka dan ini terus berkembang hingga masa islamisasi oleh Raden Patah yang mengkhianati orang tuanya Raja Brawijaya V kemudian disusul pendudukan Belanda di Indonesia yang melibatkan agama dalam adu domba politik. 


Setelah Indonesia merdeka Bung Karno sebenarnya ingin mempertahankan agama dan ajaran kejawen sebagai way of life orang Indonesia dengan menjaga kemurnian Pancasila tapi selalu diganggu oleh pihak lain yang ingin menguasai Indonesia dengan mempolitisasi agama impor dan merubah budaya Indoneaia , puncaknya setelah Suharto berkuasa dengan membiarkan islam yang murni impor dan menetapkan 5 agama impor dalam GBHN adalah usaha untuk memusnahkan budaya lokal  Insonesia walaupun banyak orang menganggap Suharto seorang kejawen tapi yang terlihat Suharto bukan orang yang memahami agama apalagi budaya karena membiarkan budaya dan ajaran asli kejawen terus terkikis terutama oleh islamisasi yang terus menyerang islam Nusantara dan memojokan budaya Indonesia sebagai sesat atau musyrik hingga hari ini. 


Gerakan Islam impor ini masih terlihat sangat masif merubah budaya kita dan, setelah Soeharto jatuh, mereka menganggap sudah sangat kuat, sehingga mereka berniat untuk menggeser ajaran kejawen dari Bumi Nusantara ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ancaman, baik fisik maupun non fisik yang mereka lakukan kepada orang-orang awam di Indonesia. Dengan keteguhan Para ulama NU serta agama lain yang sudah memahami arti kejawen sesungguhnya seperti Hindu Bali,  Budha Nusantara Kristen Nusantara dan katholik Nusantara maupun kejawen sejati  dan makin terbukanya kebebasan berpikir manusia Indonesia , kita  yakin kejawen  lambat laun akan menjadi tuan rumah kembali di tanah kelahirannya sendiri karena merupakan way of life yang bisa berdiri sendiri. 


Manunggaling Kawula Gusti, merupakan makna yang dalam bagi seorang Kejawen. Oleh karenanya banyak pemuka-pemuka agama pada saat islamisasi, memelintirkan esensi dari makna Manunggaling Kawula Gusti itu sendiri. Hal ini tidak lain  untuk memuluskan proses islamisasi di tanah Jawa sehingga dianggap sesat 


Manunggaling Kawula Gusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa. Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Gusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul. 


Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah Titipan Tuhan Yang Maha Esa. Pemelintiran tersebut, jelas untuk kepentingan penyebaran agama impor tersebut. 


Analogi lain, jika kita mencintai dan menyayangi ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan ibu kita ada dalam badan kita? Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih. Bukan seperti yang diartikan: mempersatukan Tuhan dengan diri kita. Lagi-lagi ini adalah sebuah pemelintiran dari agama import. 


Banyak orang memvonis bahwa Kedjawen bukanlah agama, melainkan hanya kepercayaan semata. Sementara ini benar karena masyarakat atau Rakyat Indonesia dipaksa memeluk agama yang ditetapkan GBHN dan tak Punya alasan lain pada masa orde baru bahkan nyawa taruhannya

Bahkan hingga hari inipun para penganut kejawen selalu mendapat persekusi dan kekerasan. 


Alasan lain  karena Kejawen tidak memiliki kitab sebagai rujukan. Bagi agama rasul, kitab menjadi penting karena memang agar para penganut agama mereka, tidak dapat atau tidak diizinkan berinteraksi langsung dengan sang Penciptanya.harus melalui norma dan dogma agar sesuai dengan keinginan pemimpinnya. 


Ibarat pancing dan ikan, dalam agama rasul, para penganutnya langsung diberi ikan. Sehingga para penganutnya seolah akan dapat lebih mudah untuk mengerti kaidah-kaidah komunikasi dengan sang Pencipta, dengan pola menghafal. Sementara pada Kejawen, kita diberi pancing untuk mencari tahu bagaimana heningnya berkomunikasi dengan sang Pencipta, hal ini tidak perlu dihafal. Karena Olah Roso membuat kita berinteraksi sesungguhnya dengan sang Pencipta. 


Sejarah bukanlah sebuah dongeng, banyak agama yang berkisah berdasarkan dogma, dan akhirnya menuntut keimanan seseorang. Hal ini dikarenakan sulit untuk membuktikannya, atau mungkin memang tidak ada buktinya. 


Seorang Kejawen harus selalu bertanya secara logika, agama yang dianutnya , sehingga ia tidak merasa atau mengalami pembodohan. Dengan adanya sejarah yang benar, dimana selalu ada waktu dan tempat kejadiannya, seorang Kejawen tidak memiliki keimanan yang dipaksakan oleh dogma. Karena menjadi seorang Kejawen, selalu dituntut kejujuran. Maka keimanan adalah sebuah ketidak jujuran kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan adanya percaya yang dipaksakan. 


Agama adalah bukan sesuatu yang perlu diperlihatkan dalam kaitannya dengan eksistensi seseorang. Memang, ada agama yang memiliki fashion sendiri, untuk mencirikan agama mereka. Kalau hal itu yang menjadi esensi dari orang-orang yang memeluknya, itu sama saja orang-orang tersebut membeli barang abal-abal, yang penting seolah-olah mereka memiliki barang yang asli. 


Berpakaianlah yang sopan dan bertutur katalah yang santun, kalau kita ingin menjadi seorang Kejawen Sejati. Dari sopan santun kita, tentunya kita akan memperkecil kemungkinan menyakiti pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Dengan menjaga sopan santun tadi, sesungguhnya itu merupakan hal dasar, kalau kita ingin mengakui dalam hati bahwa kita adalah seorang Kejawen Sejati. 


Agama Tuhan adalah, agama yang berorientasi pada satu Tuhan, atau yang disebut Tuhan Yang Maha Esa, dalam Kedjawen disebut sebagai Gusti. Proses adanya Tuhan dalam pikiran manusia, adalah karena adanya Olah Roso, dimana seorang Kejawen menemukan hubungan perasaan yang unik dengan zat yang dinamakan orang-orang di dunia ini: Allah, Tuhan, God, Gusti. 


Jadi jelas, menurut ajaran kejawen  tidak ada satu agama pun di dunia ini, yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan beberapa nalar matahati kita. Kita saja sebagai orang tua, tidak akan membiarkan atau merelakan anak-anak kita bertengkar satu sama lain. Apalagi Tuhan Yang Maha Esa. 


Banyak agama yang mengklaim sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tapi mereka bertengkar, bahkan sampai saling bunuh antar agama yang mengklaim ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Jadi, kalau memang ada agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kita pasti hidup aman dan tentram. 


Kalau benar ada agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, maka pasti tidak perlu dipelajari oleh manusia. Karena pasti sudah inheren didalam pikiran kita, semenjak lahir. 


Agama adalah Roso, bukan matematis, sehingga tidak ada penyeragaman yang strike terhadap sebuah aturan yang dihitung secara matematis. Hubungan setiap manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki hubungan yang unik, jadi setiap orang memiliki rasa kedekatannya sendiri masing-masing. Di sinilah keimanan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa diuji. Apakah ia benar-benar ikhlas mengimani Tuhan Yang Maha Esa, tanpa harus ada perantaranya. 


Di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, kita ini memang semua sama. Hubungan itu justru tergantung dari bagaimana kita mengimani Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Dengan keikhlasan dan kepasrahan kita dalam mengimani Tuhan Yang Maha Esa, dalam saat yang bersamaan rasa tentram di hati kita akan muncul. 


Semua agama di dunia berawal, atau lahir dari nilai-nilai tradisi setempat yang selanjutnya dilaksanakan dengan kepercayaan-kepercayaan yang diritualkan sejalan dengan tradisi lokal tersebut, sehingga tidak mengherankan kalau para pakar sosiologi menyatakan, bahwa semua agama di dunia lahir pada awalnya dari agama local. Sementara ideologi lahir dari pemikiran-pemikiran melalui proses thesis anti-thesis, yang pada akhirnya melahirkan aturan-aturan sosial yang komplit pula.   


Perbedaan esensial antara agama dengan ideology, adalah terletak pada pola hukuman dan penghargaannya (reward and punishment). Agama menerapkan hitungan hukuman dengan dosa, yang masih sangat imajinatif dan harus dipercayai dengan melalui iman dan dogma (kebalikan dari fakta dan data). Sementara ideologi menerapkan hukumannya dengan hukum positif setempat yang berlaku, dan harus dilaksanakan dengan fakta dan data (kebalikan dari iman dan dogma).


Persamaan antara agama dan ideology, adalah untuk dapat mengerti aturan-aturan agama atau ideologi secara ceteris paribus, orang harus membaca dan menghafalkannya terlebih dahulu. Sehingga, tidak mengherankan ketika seseorang yang hafal dan eksis di lingkungannya karena pengetahuannya terhadap agama atau ideologi tertentu, secara psikologis orang tersebut akan ketagihan untuk terus membaca dan menghafalkan segala sesuatunya, agar dia dapat tetap eksis sebagai narasumber. 


Ketagihan untuk menjadi seorang ahli dalam sebuah agama atau ideologi tertentu, membuat seseorang menjadi seorang yang fanatik terhadap apa yang ia baca dan percayai. Kefanatikan seseorang inilah yang dapat dipergunakan oleh orang-orang ahli cuci otak untuk menjadikan targetnya menjadi seorang teroris. 


Kejawen  bukan agama yang perlu dihafalkan, tetapi agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses Olah Roso. Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan surga dan nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan. Dengan Olah Roso seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati tidak berangan-angan masuk ke surga, karena ia sudah menemukan kedamaian ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti agama rosul, yang menggunakan rosul sebagai perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa. 


Jadi dapat dipastikan pemeluk kejawen , tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti. 


Mari kita pertahankan budaya Nusantara dan kita dalami nilai- nilai luhur yang ada didalamya. 


Salam Persatuan dan Cinta Indoneaia 


Tito Gatsu.

Postingan Populer

Powered By Blogger